Aktivis : Indonesia gagal Kontrol ODHA
Selasa, 20 Agustus 2019 13:14 WIB
Foto bersama peserta diskusi HIV dan AIDS di Indonesia yang digelar oleh Jaringan Indonesia Positif (JIP) di Makassar, Senin (19/08/2019). ANTARA Foto/Nur Suhra Wardyah
Makassar (ANTARA) - Kordinator IU YPKDS (Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya), Tengku Rodhan mengatakan Indonesia dipastikan telah gagal mengontrol ODHA dalam memperoleh pengobatan ARV sesuai target capaian 50 persen pada tahun 2020.
"Karena ini sudah akhir tahun 2019 tetapi belum mencapai 40 persen," kata dia pada diskusi terkait HIV/Aids bersama media dan pemerhati ODHA di Makassar, Senin.
Berdasarkan laporan 541 kabupaten/kota se Indonesia pada 2019, estimasi secara nasional sebanyak 640.443 ODHA dengan jumlah yang pernah mendapat ARV sebanyak 224.471 orang. Namun yang tetap melakukan on treatment atau pengobatan ARV hanya 108.479 orang.
Dengan demikian, capaian Indonesia terhadap ODHA untuk memperoleh pengobatan melalui ARV masih di bawah 20 persen.
ARV merupakan satu-satunya obat yang bisa menekan virus HIV dalam tubuh sehingga tidak semakin menular dan mengakibatkan daya imun menurun yang akibatnya tubuh sangat mudah diserang berbagai penyakit.
Penggunaan ARV sangat penting karena bisa menjadi suplemen penyambung hidup ODHA untuk beraktivitas seperti sedia kala, tentunya dengan kedisiplinan mengkonsumsi ARV setiap hari dan seumur hidup.
"Jika tidak minum ARV kemungkinannya hanya bisa bertahan tiga sampai lima tahun. Ini pun tergantung pola hidup mereka masing-masing," paparnya.
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan kelompok paling banyak terdeteksi sebagai ODHA didominasi oleh umur antara 25-49 tahun. Mirisnya, kelompok umur selanjutnya telah banyak didapati pada mereka yang berusia 20-24 tahun.
"Karena ini sudah akhir tahun 2019 tetapi belum mencapai 40 persen," kata dia pada diskusi terkait HIV/Aids bersama media dan pemerhati ODHA di Makassar, Senin.
Berdasarkan laporan 541 kabupaten/kota se Indonesia pada 2019, estimasi secara nasional sebanyak 640.443 ODHA dengan jumlah yang pernah mendapat ARV sebanyak 224.471 orang. Namun yang tetap melakukan on treatment atau pengobatan ARV hanya 108.479 orang.
Dengan demikian, capaian Indonesia terhadap ODHA untuk memperoleh pengobatan melalui ARV masih di bawah 20 persen.
ARV merupakan satu-satunya obat yang bisa menekan virus HIV dalam tubuh sehingga tidak semakin menular dan mengakibatkan daya imun menurun yang akibatnya tubuh sangat mudah diserang berbagai penyakit.
Penggunaan ARV sangat penting karena bisa menjadi suplemen penyambung hidup ODHA untuk beraktivitas seperti sedia kala, tentunya dengan kedisiplinan mengkonsumsi ARV setiap hari dan seumur hidup.
"Jika tidak minum ARV kemungkinannya hanya bisa bertahan tiga sampai lima tahun. Ini pun tergantung pola hidup mereka masing-masing," paparnya.
Data Kementerian Kesehatan menyebutkan kelompok paling banyak terdeteksi sebagai ODHA didominasi oleh umur antara 25-49 tahun. Mirisnya, kelompok umur selanjutnya telah banyak didapati pada mereka yang berusia 20-24 tahun.
Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri BUMN mengapresiasi PLN bantu kemandirian ekonomi komunitas ODHA
29 December 2021 14:35 WIB, 2021
Kemenkes: HIV/AIDS tidak boleh luput dari perhatian pada masa pandemi
01 December 2020 9:27 WIB, 2020
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Bantuan emergensi kesehatan berbasis aplikasi hadir di Sulawesi Selatan
17 January 2020 6:16 WIB, 2020
Karyawan Sharp Indonesia laksanakan trauma healing untuk korban banjir
09 January 2020 5:37 WIB, 2020