Bakal ditutup permanen, bukit cadas Uluru diserbu wisatawan
Jumat, 25 Oktober 2019 14:32 WIB
Salah satu ikon negara Australia berupa formasi batu berukuran besar di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta. (ANTARA News/ Reuters)
Yulara, Australia (ANTARA) - Ratusan wisatawan membentuk antrian panjang untuk mendaki bukit cadas Uluru, Australia, pada Jumat pagi, sehari selum diberlakukan larangan pendakian secara permanen.
Perjuangan puluhan tahun penduduk asli untuk menutup pendakian akhirnya berbuah manis.
Kondisi berangin mengharuskan pengunjung menghentikan pendakian pada pagi hari dan pihak berwenang mengatakan mereka akan meninjau kembali pada siang apakah akan dibuka kembali atau tidak
Monolit berukuran 348 meter yang terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO, yang juga dikenal Ayers Rock merupakan daya tarik wisata utama di Australia meskipun letaknya terpencil di dekat Kota Alice Springs di Wilayah Utara.
Sementara sebagian besar pengunjung tidak melakukan pendakian Uluru yang terjal, larangan 26 Oktober mendatang memicu lonjakan pendaki yang hendak menikmati kesempatan terakhir merasakan jalur pendakian.
Masyarakat Anangu, pemilik tradisional Uluru, sudah lama meminta penutupan pendakian sejak 1985, ketika taman tersebut kembali dikendalikan oleh orang pribumi. Anangu mengatakan Uluru memiliki makna spritual mendalam sebagai rute yang ditempuh oleh leluhur mereka.
Kelly Derks, dari Kota Melbourne, mengatakan ia ingin mendaki Uluru seraya menghormati kepercayaan masyarakat pribumi.
"Kami menghormati itu, kami mendaki tetapi kami tidak membuang sampah, kami tetap di jalur pendakian," kata Derks.
Puluhan orang meninggal selama mendaki Uluru akibat jatuh atau pun dehidrasi.
Warga lainnya asal Kota Adelaide, Sonita Vinecombe, mengaku larangan pendakian mendatang membuatnya datang ke Uluru.
"Kami tak berniat datang dalam waktu dekat, tetapi karena ini hari terakhir maka kami ke sini," katanya.
Hingga akhir Juni tahun ini tercatat hampir 400.000 pengunjung berbondong-bondong mendatangi ikon Australia itu, menurut data pemerintah.
Penutupan Uluru diumumkan dua tahun lalu ketika kurang dari 20 persen pengunjung melakukan pendakian.
Untuk memperingati larangan pendakian tersebut pihak taman nasional akan melakukan perayaan umum selama akhir pekan.
"Ini adalah tempat yang begitu penting, bukan taman bermain atau taman hiburan seperti Disneyland," kata pemilik tradisional senior Anangu, Sammy Wilson dalam satu pernyataan.
"Kami menyambut turis di sini. Menutup pendakian bukanlah hal yang mengecewakan, namun sebuah alasan untuk perayaan."
Sumber: Reuters
Perjuangan puluhan tahun penduduk asli untuk menutup pendakian akhirnya berbuah manis.
Kondisi berangin mengharuskan pengunjung menghentikan pendakian pada pagi hari dan pihak berwenang mengatakan mereka akan meninjau kembali pada siang apakah akan dibuka kembali atau tidak
Monolit berukuran 348 meter yang terdaftar sebagai warisan dunia UNESCO, yang juga dikenal Ayers Rock merupakan daya tarik wisata utama di Australia meskipun letaknya terpencil di dekat Kota Alice Springs di Wilayah Utara.
Sementara sebagian besar pengunjung tidak melakukan pendakian Uluru yang terjal, larangan 26 Oktober mendatang memicu lonjakan pendaki yang hendak menikmati kesempatan terakhir merasakan jalur pendakian.
Masyarakat Anangu, pemilik tradisional Uluru, sudah lama meminta penutupan pendakian sejak 1985, ketika taman tersebut kembali dikendalikan oleh orang pribumi. Anangu mengatakan Uluru memiliki makna spritual mendalam sebagai rute yang ditempuh oleh leluhur mereka.
Kelly Derks, dari Kota Melbourne, mengatakan ia ingin mendaki Uluru seraya menghormati kepercayaan masyarakat pribumi.
"Kami menghormati itu, kami mendaki tetapi kami tidak membuang sampah, kami tetap di jalur pendakian," kata Derks.
Puluhan orang meninggal selama mendaki Uluru akibat jatuh atau pun dehidrasi.
Warga lainnya asal Kota Adelaide, Sonita Vinecombe, mengaku larangan pendakian mendatang membuatnya datang ke Uluru.
"Kami tak berniat datang dalam waktu dekat, tetapi karena ini hari terakhir maka kami ke sini," katanya.
Hingga akhir Juni tahun ini tercatat hampir 400.000 pengunjung berbondong-bondong mendatangi ikon Australia itu, menurut data pemerintah.
Penutupan Uluru diumumkan dua tahun lalu ketika kurang dari 20 persen pengunjung melakukan pendakian.
Untuk memperingati larangan pendakian tersebut pihak taman nasional akan melakukan perayaan umum selama akhir pekan.
"Ini adalah tempat yang begitu penting, bukan taman bermain atau taman hiburan seperti Disneyland," kata pemilik tradisional senior Anangu, Sammy Wilson dalam satu pernyataan.
"Kami menyambut turis di sini. Menutup pendakian bukanlah hal yang mengecewakan, namun sebuah alasan untuk perayaan."
Sumber: Reuters
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Alcaraz singkirkan Zverev setelah bertarung lima jam di semifinal Australia Open
30 January 2026 18:22 WIB
12 orang tewas, 29 terluka akibat penembakan massal di Pantai Bondi Australia
15 December 2025 6:01 WIB
Presiden Prabowo direncanakan menemui mantan PM Australia Paul Keating di Sydney
12 November 2025 5:35 WIB
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Kemenpar tugaskan Poltekpar Makassar pantau destinasi wisata hadapi libur Nataru
24 December 2025 4:58 WIB
LKBN ANTARA promosi budaya dan ekraf lewat Festival Fotografi Celebes di Toraja Utara
14 December 2025 6:03 WIB
Wamen Pariwisata : Pemda harus hadir mendukung kegiatan berkualitas daerah
25 September 2025 12:46 WIB
Sulbar tampilkan tenun Sekomandi dan Saqbe Mandar di ajang Fesyar KTI 2025
04 September 2025 19:03 WIB
Kemenpar gandeng BIMP-EAGA jajaki potensi wisata Geopark Rammang-Rammang Maros
23 August 2025 17:28 WIB