Kementan luncurkan ruang pusat data pertanian nasional berbasis teknologi
Selasa, 4 Februari 2020 19:35 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil pada acara peluncuran Agriculture War Room (AWR) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta, Selasa (4/2/2020). ANTARA/HO-Humas Kementan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian meluncurkan Agriculture War Room (AWR) sebagai ruang pusat data dan sistem kontrol pembangunan pertanian nasional berbasis teknologi.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan sistem ini nantinya akan memantau produksi tanaman pangan, khususnya beras di hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga pemerintah dapat memastikan waktu dan daerah yang akan panen.
"Teknologi ini nantinya akan menjadi alat ukur dalam melakukan pengawasan sekaligus mapping area lahan nasional. Dengan alat ini kami ingin pertanian ke depan lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern untuk hasil yang memuaskan," kata Mentan Syahril pada peluncuran Agriculture War Room (AWR) di Kementerian Pertanian Jakarta, Selasa.
Mentan mengatakan sistem AWR ini sudah dirancang secara multiguna, terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat kecamatan dan desa. Ia pun memastikan bahwa ke depan tidak ada lagi perbedaan data statistik karena semua sudah terpantau dengan akurat.
Petani juga tidak perlu membeli alat drone untuk melaporkan sawahnya ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian. Hal itu karena Kementan sudah memiliki alat ukurnya yang berbasis "internet of things" atau sudah menggunakan kecerdasan buatan.
"Namun, sejauh ini kami juga belum memutuskan apa-apa saja yang akan menjadi kebijakan secara utuh. Yang jelas saat ini kami masih mengawasi secara langsung di lapangan," kata Syahrul.
Mentan berharap kecanggihan AWR mampu meningkatkan semua produksi dengan kualitas panen di atas rata-rata. Terlebih, hasil tersebut bisa memenuhi ketersediaan pangan nasional dan pasar global.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi upaya Kementan dalam memajukan pertanian Indonesia. Menurut dia, inovasi yang diciptakan ini masuk kategori maju, mandiri dan modern.
"Saya sangat bangga sekali, apapun kerjanya pasti harus bermain data. Karena data itu valid. Kalau ini ditata dengan baik ke depannya kita tidak akan ribut lagi soal impor beras atau lainnya," kata Menko Luhut.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan sistem ini nantinya akan memantau produksi tanaman pangan, khususnya beras di hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga pemerintah dapat memastikan waktu dan daerah yang akan panen.
"Teknologi ini nantinya akan menjadi alat ukur dalam melakukan pengawasan sekaligus mapping area lahan nasional. Dengan alat ini kami ingin pertanian ke depan lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern untuk hasil yang memuaskan," kata Mentan Syahril pada peluncuran Agriculture War Room (AWR) di Kementerian Pertanian Jakarta, Selasa.
Mentan mengatakan sistem AWR ini sudah dirancang secara multiguna, terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat kecamatan dan desa. Ia pun memastikan bahwa ke depan tidak ada lagi perbedaan data statistik karena semua sudah terpantau dengan akurat.
Petani juga tidak perlu membeli alat drone untuk melaporkan sawahnya ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian. Hal itu karena Kementan sudah memiliki alat ukurnya yang berbasis "internet of things" atau sudah menggunakan kecerdasan buatan.
"Namun, sejauh ini kami juga belum memutuskan apa-apa saja yang akan menjadi kebijakan secara utuh. Yang jelas saat ini kami masih mengawasi secara langsung di lapangan," kata Syahrul.
Mentan berharap kecanggihan AWR mampu meningkatkan semua produksi dengan kualitas panen di atas rata-rata. Terlebih, hasil tersebut bisa memenuhi ketersediaan pangan nasional dan pasar global.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi upaya Kementan dalam memajukan pertanian Indonesia. Menurut dia, inovasi yang diciptakan ini masuk kategori maju, mandiri dan modern.
"Saya sangat bangga sekali, apapun kerjanya pasti harus bermain data. Karena data itu valid. Kalau ini ditata dengan baik ke depannya kita tidak akan ribut lagi soal impor beras atau lainnya," kata Menko Luhut.
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Sidrap hadirkan TeknoFarm Sarprofest dorong produktivitas padi petani
06 February 2026 6:20 WIB
Dinas Pertanian Kepulauan Selayar lakukan sosialisasi kebijakan pupuk subsidi
06 November 2025 4:50 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB