Telegram blokir 64 kanal di Jerman
Sabtu, 12 Februari 2022 16:43 WIB
Ilustrasi aplikasi Telegram. (ANTARA/HO/LinkedIn)
Jakarta (ANTARA) - Telegram memblokir 64 kanal di Jerman karena menyebarkan teori konspirasi anti-vaksin COVID-19 di sana.
Reuters, mengutip koran Sueddeutsche Zeitung, Sabtu, melaporkan polisi federal Jerman sebelumnya mengirimkan permintaan ke Telegram untuk memblokir kanal-kanal tersebut.
Telegram dituduh memicu tumbuhnya teori konspirasi anti-vaksin. Para pendukung teori tersebut menggunakan platform pesan instan itu untuk bertukar berita tentang bahaya vaksin sampai mengatur aksi protes, yang berkembang menjadi kekerasan.
Kanal-kanal yang diblokir termasuk milik Attila Hildmann, koki selebritas vegan yang menyebarkan teori konspirasi soal virus corona kepada lebih dari 100.000 pengikutnya.
Kementerian Dalam Negeri Jerman pekan lalu menyatakan sudah berdiskusi dengan perwakilan Telegram. Kementerian belum memberikan keterangan soal pemblokiran ini.
Sementara Telegram, tidak memberikan komentar.
Aplikasi Telegram di Jerman populer di kalangan kelompok sayap kanan jauh.
Menteri Dalam Negeri Nancy Faeser bulan lalu mengatakan Jerman bisa menutup Telegram dan sedang berdiskusi dengan mitra di Uni Eropa untuk mengatur layanan pesan instan.
Reuters, mengutip koran Sueddeutsche Zeitung, Sabtu, melaporkan polisi federal Jerman sebelumnya mengirimkan permintaan ke Telegram untuk memblokir kanal-kanal tersebut.
Telegram dituduh memicu tumbuhnya teori konspirasi anti-vaksin. Para pendukung teori tersebut menggunakan platform pesan instan itu untuk bertukar berita tentang bahaya vaksin sampai mengatur aksi protes, yang berkembang menjadi kekerasan.
Kanal-kanal yang diblokir termasuk milik Attila Hildmann, koki selebritas vegan yang menyebarkan teori konspirasi soal virus corona kepada lebih dari 100.000 pengikutnya.
Kementerian Dalam Negeri Jerman pekan lalu menyatakan sudah berdiskusi dengan perwakilan Telegram. Kementerian belum memberikan keterangan soal pemblokiran ini.
Sementara Telegram, tidak memberikan komentar.
Aplikasi Telegram di Jerman populer di kalangan kelompok sayap kanan jauh.
Menteri Dalam Negeri Nancy Faeser bulan lalu mengatakan Jerman bisa menutup Telegram dan sedang berdiskusi dengan mitra di Uni Eropa untuk mengatur layanan pesan instan.
Pewarta : Natisha Andarningtyas
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bareskrim Polri ungkap kasus pornografi anak lewat aplikasi Telegram
13 November 2024 18:41 WIB, 2024
Polisi tangkap terduga penyebar video pornografi anak lewat aplikasi Telegram
25 August 2024 18:27 WIB, 2024
Kapolresta Mamuju ingatkan pentingnya netralitas polisi saat pemilu 2024
23 October 2023 21:12 WIB, 2023
Kapolri mutasi 60 personel termasuk Kapolda Aceh dan dua wakapolda
26 September 2023 21:21 WIB, 2023
Kapolri menerbitkan telegram mutasi 437 personel termasuk kapolda Metro Jaya
29 March 2023 10:41 WIB, 2023
Kapolri terbitkan telegram mutasi 22 personel Polri ke jabatan struktural luar institusi
26 September 2022 14:12 WIB, 2022
Terpopuler - Gaya Hidup
Lihat Juga
Hujan ringan hingga lebat berpotensi guyur sejumlah kota Indonesia pada Senin
28 September 2026 4:53 WIB