Rektor Unhas jadi khatib shalat Idul Adha di Al-Markaz Makassar
Minggu, 10 Juli 2022 16:35 WIB
Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc jadi Khatib shalat Idul Adha 1443 H di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Minggu,(10/7/2022).ANTARA/HO-Unhas
Makassar (ANTARA) - Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc bertindak sebagai Khatib shalat Idul Adha 1443 H di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jendral M Jusuf, Jl Masjid Raya Makassar, Minggu.
Pada kesempatan tersebut Jompa menyampaikan khutbah berjudul Eksistensi Kurban dalam Mendekatkan Diri kepada Allah SWT".
Mengawali khutbahnya, Jompa menyampaikan perayaan Hari Raya Idul Adha merupakan kesempatan bagi umat Muslim untuk berkumpul dan mengungkapkan kesyukuran dan pengabdian kepada Allah SWT.
"Di Hari Idul Adha ini dan tiga hari setelahnya yang disebut sebagai hari-hari tasyriq, bagi umat Islam disunahkan mengumandangkan kalimat takbir, mengagungkan nama Allah, sebagai bentuk kepasrahan kepada Sang Maha Pencipta," katanya.
Jompa melanjutkan Idul Adha yang dirayakan setiap bulan Dzulhijjah bermakna “kembali berkurban” yaitu dengan menyembelih kambing, sapi atau unta dengan syarat-syarat tertentu setelah melaksanakan shalat Idul Adha dan pada hari-hari tasyriq sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
"Sehubungan dengan perintah untuk berkurban tersebut, maka Rasulullah SAW., setiap tahun selalu menyembelih hewan kurban dan tidak pernah meninggalkannya," ujarnya.
"Oleh karena itu, orang Muslim yang telah mempunyai kemampuan untuk berkurban tetapi tidak mau melaksanakannya pernah diancam oleh Rasulullah SAW yang bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA," sambung Jompa.
Dalam akhir khutbahnya, Jompa menyampaikan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah qurban dan sebagai peristiwa yang diabadikan dalam bentuk melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha dan Jumrah Aqabah dalam pelaksanaan Ibadah Haji.
Melalui khutbahnya, Jompa mengajak umat Muslim untuk melihat fakta dan realitas yang terjadi bahwa begitu banyak orang-orang yang tidak memiliki penghasilan tinggi, tidak memiliki pangkat, jabatan dan status sosial yang tinggi mampu menunaikan ibadah haji.
"Diantara mereka ada yang pekerjaannya hanya mengayuh becak dan hasilnya ditabung, mampu menunaikan ibadah haji. Dengan demikian, makna 'mampu menunaikan ibadah haji' bukan hanya sebatas memiliki penghasilan tinggi, pangkat, jabatan dan status sosial yang tinggi, tetapi makna mampu adalah lebih dalam dari itu," jelas Jompa.
Pada kesempatan tersebut Jompa menyampaikan khutbah berjudul Eksistensi Kurban dalam Mendekatkan Diri kepada Allah SWT".
Mengawali khutbahnya, Jompa menyampaikan perayaan Hari Raya Idul Adha merupakan kesempatan bagi umat Muslim untuk berkumpul dan mengungkapkan kesyukuran dan pengabdian kepada Allah SWT.
"Di Hari Idul Adha ini dan tiga hari setelahnya yang disebut sebagai hari-hari tasyriq, bagi umat Islam disunahkan mengumandangkan kalimat takbir, mengagungkan nama Allah, sebagai bentuk kepasrahan kepada Sang Maha Pencipta," katanya.
Jompa melanjutkan Idul Adha yang dirayakan setiap bulan Dzulhijjah bermakna “kembali berkurban” yaitu dengan menyembelih kambing, sapi atau unta dengan syarat-syarat tertentu setelah melaksanakan shalat Idul Adha dan pada hari-hari tasyriq sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
"Sehubungan dengan perintah untuk berkurban tersebut, maka Rasulullah SAW., setiap tahun selalu menyembelih hewan kurban dan tidak pernah meninggalkannya," ujarnya.
"Oleh karena itu, orang Muslim yang telah mempunyai kemampuan untuk berkurban tetapi tidak mau melaksanakannya pernah diancam oleh Rasulullah SAW yang bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA," sambung Jompa.
Dalam akhir khutbahnya, Jompa menyampaikan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah qurban dan sebagai peristiwa yang diabadikan dalam bentuk melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha dan Jumrah Aqabah dalam pelaksanaan Ibadah Haji.
Melalui khutbahnya, Jompa mengajak umat Muslim untuk melihat fakta dan realitas yang terjadi bahwa begitu banyak orang-orang yang tidak memiliki penghasilan tinggi, tidak memiliki pangkat, jabatan dan status sosial yang tinggi mampu menunaikan ibadah haji.
"Diantara mereka ada yang pekerjaannya hanya mengayuh becak dan hasilnya ditabung, mampu menunaikan ibadah haji. Dengan demikian, makna 'mampu menunaikan ibadah haji' bukan hanya sebatas memiliki penghasilan tinggi, pangkat, jabatan dan status sosial yang tinggi, tetapi makna mampu adalah lebih dalam dari itu," jelas Jompa.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Tim SAR Unhas terlibat pencarian pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung Pangkep
19 January 2026 17:37 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
23 jam lalu
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
26 January 2026 18:37 WIB
Pemprov Sulsel percepat perbaikan ruas jalan Kalosi--Cece dan Malauwe--Surakan di Enrekang
25 January 2026 6:07 WIB