Dinkes tangani enam KLB pertusis di Sulawesi Selatan
Kamis, 11 Mei 2023 8:34 WIB
Seorang anak mendapatkan suntikan vaksin DPT (Difteri, pertusis dan tetanus) di Puskesmas Pembantu Desa Bomo, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (5/5/2021). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc. (ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)
Makassar (ANTARA) - Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan tengah menangani enam kasus KLB (Kejadian Luar Biasa) pertusis dengan masing-masing 4 kasus di Kabupaten Bulukumba dan 2 kasus di Kabupaten Luwu tahun 2023.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Rosmini Pandin di Makassar, Rabu menyebut kasus KLB pada sejumlah wilayah terjadi lantaran pasien tidak diimunisasi atau imunisasi lengkap tidak terpenuhi. Sementara pertusis ini bisa dicegah dengan vaksinasi atau imunisasi.
"Mudah-mudahan itu bisa jadi pemicu untuk dilakukan imunisasi kejar ke sejumlah daerah yang capaiannya masih rendah sembari melakukan penelusuran anak-anak kita yang belum diimunisasi," ujarnya.
Sebelumnya, sebanyak 19 anak dicurigai (suspek) pertusis (batuk rejan) atau disebut batuk seratus hari, terdiri dari 16 orang di Kabupaten Bulukumba dan 3 orang di Luwu.
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I seperti polio, hepatitis B, pertusis, difteri, haemophilus influenzae tipe B, campak dan tetanus. Adanya kasus dari penyakit tersebut telah dapat dikategorikan KLB (Kejadian Luar Biasa).
Rosmini menyebut, saat ini pihaknya bersama Dinkes daerah tengah melakukan penanganan secara tuntas agar KLB tidak lagi terjadi.
Pasalnya, selain menangani pasien positif KLB portusis, juga dilakukan tracing atau penelusuran oleh Tim Gerak Cepat (TGC) terhadap pihak-pihak yang kontak erat dengan pasien.
"Jadi penanganan itu dilakukan telusur oleh TGC, kemudian dilaporkan dan dilakukan lagi vaksinasi di sekitarnya, ada SOP nya, mereka ditangani hingga tuntas," ujarnya.
Kendati pertusis disebabkan infeksi saluran pernapasan dan bersifat sangat menular, namun pihak Kementerian Kesehatan belum menyiapkan penanganan kontak erat pasien portusis, seperti ketersediaan obat portusis.
"Padahal penularannya cepat, dan untuk menuntaskan penanganannya, kita harus tracing pada kerabat dan teman-teman korban agar KLB ini tidak terjadi kembali. Sebab jika melihat riwayat KLB pertusis, selalu saja terjadi di daerah itu," ujar Sitti Hidayah selaku Kasi Suveilans dan Imunisasi Dinkes Sulsel menambahkan.
Maka, selain Pemerintah Pusat, Dinkes Sulsel mengharapkan Dinkes daerah ikut kooperatif dalam merencanakan pengadaan obat sebagai upaya waspada yang mengacu pada data temuan KLB di masing-masing daerahnya di tahun sebelumnya.
Data Dinkes Sulsel menunjukkan kasus pertusis di Sulsel pada 2022 sebanyak 6 orang dari suspek sebanyak 22 orang. Adapun 6 orang ini tersebar di Maros 2 orang, Bulukumba 1 orang dan Luwu 3 orang.
"Berdasarkan riwayat kasus pertusis, kita yakin kasus sekarang masih imbas dari tahun sebelumnya, karena penanganannya memang yang tidak lengkap," ujarnya.
Terkait penanganan kontak erat pasien pertusis, Dinkes Sulsel telah mengajukan permintaan obat profilaksis dalam bentuk sirup dan tablet.
"Kini mulai dianggarkan dan obatnya sudah ada, jadi siap dibagi meski obatnya terbatas," kata dia.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Rosmini Pandin di Makassar, Rabu menyebut kasus KLB pada sejumlah wilayah terjadi lantaran pasien tidak diimunisasi atau imunisasi lengkap tidak terpenuhi. Sementara pertusis ini bisa dicegah dengan vaksinasi atau imunisasi.
"Mudah-mudahan itu bisa jadi pemicu untuk dilakukan imunisasi kejar ke sejumlah daerah yang capaiannya masih rendah sembari melakukan penelusuran anak-anak kita yang belum diimunisasi," ujarnya.
Sebelumnya, sebanyak 19 anak dicurigai (suspek) pertusis (batuk rejan) atau disebut batuk seratus hari, terdiri dari 16 orang di Kabupaten Bulukumba dan 3 orang di Luwu.
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I seperti polio, hepatitis B, pertusis, difteri, haemophilus influenzae tipe B, campak dan tetanus. Adanya kasus dari penyakit tersebut telah dapat dikategorikan KLB (Kejadian Luar Biasa).
Rosmini menyebut, saat ini pihaknya bersama Dinkes daerah tengah melakukan penanganan secara tuntas agar KLB tidak lagi terjadi.
Pasalnya, selain menangani pasien positif KLB portusis, juga dilakukan tracing atau penelusuran oleh Tim Gerak Cepat (TGC) terhadap pihak-pihak yang kontak erat dengan pasien.
"Jadi penanganan itu dilakukan telusur oleh TGC, kemudian dilaporkan dan dilakukan lagi vaksinasi di sekitarnya, ada SOP nya, mereka ditangani hingga tuntas," ujarnya.
Kendati pertusis disebabkan infeksi saluran pernapasan dan bersifat sangat menular, namun pihak Kementerian Kesehatan belum menyiapkan penanganan kontak erat pasien portusis, seperti ketersediaan obat portusis.
"Padahal penularannya cepat, dan untuk menuntaskan penanganannya, kita harus tracing pada kerabat dan teman-teman korban agar KLB ini tidak terjadi kembali. Sebab jika melihat riwayat KLB pertusis, selalu saja terjadi di daerah itu," ujar Sitti Hidayah selaku Kasi Suveilans dan Imunisasi Dinkes Sulsel menambahkan.
Maka, selain Pemerintah Pusat, Dinkes Sulsel mengharapkan Dinkes daerah ikut kooperatif dalam merencanakan pengadaan obat sebagai upaya waspada yang mengacu pada data temuan KLB di masing-masing daerahnya di tahun sebelumnya.
Data Dinkes Sulsel menunjukkan kasus pertusis di Sulsel pada 2022 sebanyak 6 orang dari suspek sebanyak 22 orang. Adapun 6 orang ini tersebar di Maros 2 orang, Bulukumba 1 orang dan Luwu 3 orang.
"Berdasarkan riwayat kasus pertusis, kita yakin kasus sekarang masih imbas dari tahun sebelumnya, karena penanganannya memang yang tidak lengkap," ujarnya.
Terkait penanganan kontak erat pasien pertusis, Dinkes Sulsel telah mengajukan permintaan obat profilaksis dalam bentuk sirup dan tablet.
"Kini mulai dianggarkan dan obatnya sudah ada, jadi siap dibagi meski obatnya terbatas," kata dia.
Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Korban keracunan makanan di Desa Sekarwangi Jabar bertambah menjadi 109 orang
05 June 2024 7:35 WIB, 2024
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Kemendiktisaintek tetapkan UMI Makassar jadi pengelola KNB Scholarship 2026
29 January 2026 4:24 WIB
Menhut: Lestarikan keanekaragaman hayati dan kerajaan kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung
28 January 2026 19:50 WIB
Munafri perkuat mobilitas perkotaan inklusif melalui Forum Indonesia on the Move
28 January 2026 17:13 WIB
Pemkot Makassar dan Balai Cipta Karya bahas hibah alat deteksi air JICA Jepang
28 January 2026 5:19 WIB
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB