NTP Sulsel Naik 0,26 Persen
Rabu, 1 Juli 2009 16:43 WIB
Makassar (ANTARA Sulsel) - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Selatan bulan Mei 2009 sebesar 99,07 persen atau naik 0,26 persen dibanding bulan April 2009 sebesar 98,81 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Bambang Suprijanto, di Makassar, Rabu, mengatakan, kenaikan NTP disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibanding dengan kenaikan indeks harga komsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
"Kenaikan NTP disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikomsumsi oleh rumah tangga maupun keperluan produksi pertanian," katanya.
NTP mencakup lima subsektor masing-masing subsektor padi dan palawija 93,27 persen, hortikultura 95,51 persen, tanaman perkebunan rakyat 106,08 persen, peternakan 06,92 persen dan perikanan 111,55 persen.
Dari kelima subsektor NTP yang mengalami kenaikan subsektor hortikultura 0,44 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,55 persen dan perikanan 1,19 persen sedang subsektor tanaman pangan turun -0,23 persen dan subsektor peternakan tidak mengalami perubahan.
Indeks harga yang diterima petani dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani.
Indeks harga yang diterima petani pada Mei 2009 pada seluruh subsektor sebesar 0,27 persen untuk Sulsel dibanding April 2009 yaitu dari 120,63 menjadi 120,95.
Menurut dia, naiknya NTP di Sulsel karena pada bulan Mei 2009 terjadi deflasi di daerah pedesaan sebesar -0,04 persen akibat penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan.
"Dibanding dengan beberapa provinsi di Pulau Sulawesi, NTP Sulsel relatif lebih baik dari Sulawesi Tengah," ujar Bambang.
(T.PSO-099/F003)
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Bambang Suprijanto, di Makassar, Rabu, mengatakan, kenaikan NTP disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibanding dengan kenaikan indeks harga komsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
"Kenaikan NTP disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikomsumsi oleh rumah tangga maupun keperluan produksi pertanian," katanya.
NTP mencakup lima subsektor masing-masing subsektor padi dan palawija 93,27 persen, hortikultura 95,51 persen, tanaman perkebunan rakyat 106,08 persen, peternakan 06,92 persen dan perikanan 111,55 persen.
Dari kelima subsektor NTP yang mengalami kenaikan subsektor hortikultura 0,44 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,55 persen dan perikanan 1,19 persen sedang subsektor tanaman pangan turun -0,23 persen dan subsektor peternakan tidak mengalami perubahan.
Indeks harga yang diterima petani dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani.
Indeks harga yang diterima petani pada Mei 2009 pada seluruh subsektor sebesar 0,27 persen untuk Sulsel dibanding April 2009 yaitu dari 120,63 menjadi 120,95.
Menurut dia, naiknya NTP di Sulsel karena pada bulan Mei 2009 terjadi deflasi di daerah pedesaan sebesar -0,04 persen akibat penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan.
"Dibanding dengan beberapa provinsi di Pulau Sulawesi, NTP Sulsel relatif lebih baik dari Sulawesi Tengah," ujar Bambang.
(T.PSO-099/F003)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Audiensi dengan Gubernur Sulsel, Pertamina ungkap permasalahan dan cara atasi antrean BBM
10 September 2026 10:37 WIB
Kian meresahkan, Gubernur Sulsel bentuk satgas awasi BBM dan elpiji 3 kg
09 September 2026 10:33 WIB
GM PLN UID Sulselrabar tinjau optimalisasi pembangkit listrik di Sulbagsel
09 September 2026 5:01 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Audiensi dengan Gubernur Sulsel, Pertamina ungkap permasalahan dan cara atasi antrean BBM
10 September 2026 10:37 WIB
Kian meresahkan, Gubernur Sulsel bentuk satgas awasi BBM dan elpiji 3 kg
09 September 2026 10:33 WIB
GM PLN UID Sulselrabar tinjau optimalisasi pembangkit listrik di Sulbagsel
09 September 2026 5:01 WIB