Makassar (ANTARA Sulsel) - Tim anggar Sulawesi Selatan mendapatkan tiga tiket untuk tampil pada Pekan Olahraga Nasional Remaja I di Jawa Timur, Desember 2014.

Pelatih anggar Sulsel Ira Sir Idar di Makassar, Senin, mengatakan ketiga atet tersebut masing-masing Rizky (degen putra), Roy (floret putra) serta Febri pada kategori degen putri.

Khusus nama terakhir, kata dia, berhak tampil di PON Remaja pertama ini setelah mendapatkan kuota atau "wild card" dari PB Ikasi.

"Risky berhak lolos setelah menempati posisi ke tujuh pada babak kualifikasi PON 2014 di Samarinda. Begitupun dengan Roy yang menempati rangking 18 di Pra-PON," katanya.

Menurut dia, adanya kepastian atas ketiga atlet membuat pihaknya kembali fokus mematangkan kemampuan seluruh atlet. Tim anggar Sulsel juga tetap optimistis dapat bersaing meski belum meraih prestasi saat berlaga di pra-PON, 29-30 Agustus 2014.

"Kita pada awalnya berharap bisa meloloskan empat atlet mengikuti PON Remaja 2014. Saya kira tidak ada masalah meski hanya dengan tiga atlet. Mudah-mudahan hasil kurang maskimal di babak kualifikasi menjadi pemicu untuk tampil lebih baik," katanya.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Sulsel Nukhrawi Nawir, menyatakan sudah mendapat konfirmasi soal lolosnya tiga atlet muda Sulsel di PON Remaja 2014.

Pihaknya juga berharap agar kegagalan meraih medali saat berlaga di pra-PON tidak membuat motivasi atlet menurun. KONI Sulsel meminta seluruh atlet yang dinyatakan lolos untuk terus fokus meningkatkan kemampuan sehingga bisa mempersembahkan prestasi bagi Sulsel.

"Saya kira peluang tim anggar Sulsel di PON Remaja masih cukup terbuka. Kita minta seluruh atlet menjadikan kegagalan lalu sebagai pengalaman sehingga bisa lebih mempersiapkan diri secara maksimal," katanya.

Menghadapi PO Remaja 2014, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel tidak membebankan target khusus. Ada beberapa hal yang mendasari keputusan itu seperti ajang ini merupakan penyelengaraan pertama. Kedua karena tidak memiliki referensi kuat terhadap potensi atlet muda di daerah lain.

Selain itu, lanjut dia, cabang yang dipertandingkan pada PON remaja 2014 juga fokus olahraga olimpik kecuali pencak silat. Akibatnya KONI Sulsel juga bisa dikatakan masih buta dengan kekuatan lawan sehingga sulit memprediksi.

"Apalagi ajang multievent remaja juga jarang dilaksanakan. Intinya apa yang kami lakukan bukan karena pesimistis dengan pembinaan atau kualitas atlet muda Sulsel," ujarnya. N Yuliastuti