Mamuju (ANTARA Sulbar) - Pendangkalan yang terjadi di muara sungai Kota Mamuju Provinsi Sulawesi Barat harus ditanggulangi sebelum menimbulkan dampak alam yang merugikan masyarakat sekitar, kata pejabat setempat.

Kepala Bidang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Amram Sabtu, mengatakan, pendangkalan memang terjadi di sungai Mamuju yang melintas di Kota Mamuju dan mesti menjadi perhatian pemerintah untuk segera ditanggulangi.

Ia mengatakan, pendangkalan sungai yang melintas Kota Mamuju yang letaknya berada di lingkungan padat penduduk harus mendapat perhatian agar sungai tersebut tidak meluap dan menggenangi pemukiman warga sekitar ketika musim hujan tiba.

"Jangan sampai sungai itu tampak makin tidak mampu menampung air, ketika terjadi pengdangkalan karena dapat dapat berakibat menjadi penyebab banjir.

Menurut dia, 20 tahun lalu sungai Mamuju cukup dalam dan mampu dilalui perahu atau kapal masyarakat untuk melakukan perjalanan ke hulu sungai.

Namun, kata dia, karena terjadi pendangkalan sungai kapal dan perahu kini sudah berada di muara saja karena di bagian hulu sudah terjadi pendangkalan, sehingga sungai tersebut mesti dikeruk.

Ia mengatakan, sungai tersebut juga sudah menjadi asin karena pendangkalan yang terjadi padahal dulunya sungai tersebut tawar meski di bagian muaranya, karena air laut sudah masuk ke sungai itu akibat pendangkalan yang terjadi.

Amram mengatakan, pendangkalan sungai salah satunya disebabkan karena terjadi aktivitas reklamasi pantai Kota Mamuju baik oleh pemerintah maupun swasta.

"Laju sedimentasi dan kotoran dari sungai terhalang oleh reklamasi sehingga sedimentasi hanya berada di muara sungai dan mengakibatkan arus sungai menjadi dangkal akibat itu," katanya. S Muryono