Gubernur Sulsel Beri Apresiasi Asdar Sang Seniman
Senin, 27 Oktober 2014 17:42 WIB
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo saat pelepasan jenazah Asdar Muis RMS di rumah duka di Makassar, Senin (27/10) ANTARA FOTO/Suriani Mappong
Makassar (ANTARA Sulsel) - Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasi yang tinggi pada Asdar Muis RMS sang jurnalis yang seniman.
"Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi pada dinda Asdar, karena semasa hidupnya almarhum banyak menorehkan karya seni, selain pernah menjabat posisi penting di media massa," kata Syahrul pada pidato pelepasan jenazah di rumah duka di Makassar, Senin.
Menurut dia, sosok Asdar baik bersentuhan berpikir, bersentuhan rasa, bahkan kata-kata maka akan menyimpulkan bahwa almarhum adalah seorang sahabat, guru, teman dan kerabat yang baik.
Di mata Syahrul, Asdar juga adalah wartawan senior yang telah memperlihatkan komitmen kesehariannya mengawal nurani-nurani kebenaran yang dia pahami.
"Tentu kita sangat kehilangan seorang teman, sahabat dan kerabat yang bisa diandalkan sebagai orang Bugis Makassar yang senantiasa dapat diandalkan komitmennya, memegang prinsip "sipakatau sipakainge" (saling menghormati dan mengingatkan)," katanya.
Gubernur pun mengenang, jika buku terakhirnya yang ke-13 baru tiga hari yang lalu selesai diedit oleh mantan pemimpin redaksi Manado Pos itu.
Menurut dia, dari 13 buku yang diluncurkannya, sembilan buku diantaranya diedit oleh Asdar yang dikenal sebagai tokoh dari theater "Sapi Berbunyi".
Sementara itu, mantan Wali Kota Makassar H Ilham Arief Sirajuddin mengatakan, almarhum adalah seorang tokoh seniman yang tidak segan-segan mengkritisi pemerintah jika kebijakannya tidak membumi.
Kendati memiliki kedekatan emosional dengan para pejabat pemerintahan, lanjut dia, tetapi tidak risih menegur melalui tulisan, pementasan seni teater maupun berbicara langsung dengan pejabat bersangkutan.
"Apabila ada kebijakan yang baik untuk masyarakat, beliau juga memberikan apresiasi. Jadi, betul-betul dapat memposisikan diri sebagai kritikus maupun apresiator, termasuk mengangkat persoalan di lapangan lewat karya-karyanya," katanya.
Sebelum gubernur menyampaikan pidato pelepasannya, Nur Alim Djalil yang merupakan wartawan senior sekaligus penulis "Percik" di Harian Fajar, mengulas biografi putra kelahiran Pangkep, 13 Agustus 1963.
Darah seni itu diperoleh dari proses pendidikan dan pengalaman di lapangan. Seusai menamatkan kuliahnya di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin, Makassar. Asdar juga sempat menimba ilmu di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Jogjakarta.
Dari Asdafri kemudian bergabung dengan Sanggar Merah Putih dan kemudian meraih aktor terbaik Festifal Dewan Kesenian Makassar. Selanjutnya pada 1987 bergabung dengan Harian Fajar sebagai wartawan dan kemudian hijrah ke Manado menjadi Redpel Manado Pos.
Koresponden di Majalah Tempo, redaktur Hariam Brita Yudha Jakarta, Karo Harian Nusantara Bali, di Jakarta, kemudian aktif kembali di dunia kesenimanan sepulang dari Jakarta dan aktif menulis buku diantaranya buku berjudul "Sepatu Tuhan" dan "Tuhan Masih Pidato".
Almarhum yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Radio Suara Celebes FM ini, meninggalkan seorang isteri bernama Herlina dan dua orang anak masing-masing Asho dan Irma.
Kini, meskipun penulis sekaligus seniman teater ini telah tiada, namun karya-karyanya tetap membahana, menjadi inspirasi bagi seniman-seniman muda dan cikal bakal lahirnya Asdar yang baru. Agus Setiawan
"Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi pada dinda Asdar, karena semasa hidupnya almarhum banyak menorehkan karya seni, selain pernah menjabat posisi penting di media massa," kata Syahrul pada pidato pelepasan jenazah di rumah duka di Makassar, Senin.
Menurut dia, sosok Asdar baik bersentuhan berpikir, bersentuhan rasa, bahkan kata-kata maka akan menyimpulkan bahwa almarhum adalah seorang sahabat, guru, teman dan kerabat yang baik.
Di mata Syahrul, Asdar juga adalah wartawan senior yang telah memperlihatkan komitmen kesehariannya mengawal nurani-nurani kebenaran yang dia pahami.
"Tentu kita sangat kehilangan seorang teman, sahabat dan kerabat yang bisa diandalkan sebagai orang Bugis Makassar yang senantiasa dapat diandalkan komitmennya, memegang prinsip "sipakatau sipakainge" (saling menghormati dan mengingatkan)," katanya.
Gubernur pun mengenang, jika buku terakhirnya yang ke-13 baru tiga hari yang lalu selesai diedit oleh mantan pemimpin redaksi Manado Pos itu.
Menurut dia, dari 13 buku yang diluncurkannya, sembilan buku diantaranya diedit oleh Asdar yang dikenal sebagai tokoh dari theater "Sapi Berbunyi".
Sementara itu, mantan Wali Kota Makassar H Ilham Arief Sirajuddin mengatakan, almarhum adalah seorang tokoh seniman yang tidak segan-segan mengkritisi pemerintah jika kebijakannya tidak membumi.
Kendati memiliki kedekatan emosional dengan para pejabat pemerintahan, lanjut dia, tetapi tidak risih menegur melalui tulisan, pementasan seni teater maupun berbicara langsung dengan pejabat bersangkutan.
"Apabila ada kebijakan yang baik untuk masyarakat, beliau juga memberikan apresiasi. Jadi, betul-betul dapat memposisikan diri sebagai kritikus maupun apresiator, termasuk mengangkat persoalan di lapangan lewat karya-karyanya," katanya.
Sebelum gubernur menyampaikan pidato pelepasannya, Nur Alim Djalil yang merupakan wartawan senior sekaligus penulis "Percik" di Harian Fajar, mengulas biografi putra kelahiran Pangkep, 13 Agustus 1963.
Darah seni itu diperoleh dari proses pendidikan dan pengalaman di lapangan. Seusai menamatkan kuliahnya di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin, Makassar. Asdar juga sempat menimba ilmu di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Jogjakarta.
Dari Asdafri kemudian bergabung dengan Sanggar Merah Putih dan kemudian meraih aktor terbaik Festifal Dewan Kesenian Makassar. Selanjutnya pada 1987 bergabung dengan Harian Fajar sebagai wartawan dan kemudian hijrah ke Manado menjadi Redpel Manado Pos.
Koresponden di Majalah Tempo, redaktur Hariam Brita Yudha Jakarta, Karo Harian Nusantara Bali, di Jakarta, kemudian aktif kembali di dunia kesenimanan sepulang dari Jakarta dan aktif menulis buku diantaranya buku berjudul "Sepatu Tuhan" dan "Tuhan Masih Pidato".
Almarhum yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Radio Suara Celebes FM ini, meninggalkan seorang isteri bernama Herlina dan dua orang anak masing-masing Asho dan Irma.
Kini, meskipun penulis sekaligus seniman teater ini telah tiada, namun karya-karyanya tetap membahana, menjadi inspirasi bagi seniman-seniman muda dan cikal bakal lahirnya Asdar yang baru. Agus Setiawan
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub sampaikan pesan budaya Sulsel "Siri' na Pacce" di perayaan Kaisar Jepang
13 February 2026 9:50 WIB
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Kerusuhan hingga peternakan lebah, film Internasional di Oscar pada 2020
14 January 2020 8:50 WIB, 2020
Unismuh dan Litbang Kemenag luncurkan buku cerita berbahasa Bugis-Makassar
17 December 2019 14:01 WIB, 2019
Ratusan karya fotografer dibedah di "Kampoeng Fotografi 2019" Unhas
12 December 2019 20:17 WIB, 2019
Selasar Balai Kota Jakarta jadi ruang pameran foto peringati Hari Pahlawan
06 December 2019 19:47 WIB, 2019