Luwu (ANTARA) - Setelah lima hari ditutup, jalan Trans Sulawesi di wilayah Walenrang, Kabupaten Luwu, akhirnya kembali dibuka pada Rabu (27/1) malam.
Penutupan jalan tersebut dilakukan oleh massa dari Aliansi Wija To Luwu sejak Jumat (23/1) sebagai bentuk aksi demonstrasi menuntut pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Para demonstran menyatakan mereka membuka blokade tanpa paksaan dari pihak mana pun dan meski jalan telah dibuka. Mereka mengaku akan terus mengawal perjuangan agar tuntutan tersebut dapat terwujud.
Baca juga: Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
Menurut mereka, pemekaran wilayah menjadi langkah penting untuk mengurangi ketimpangan pembangunan ekonomi dan politik di kawasan Walenrang dan Lamasi.
"Itulah yang menjadi landasan kami untuk mewujudkan mimpi para pendahulu kami untuk pembentukan Luwu Tengah," kata Yandi, salah satu perwakilan demonstran, Selasa malam.
Selain di Walenrang, juga ada sejumlah jalur yang diblokir pengunjuk rasa agar pengguna kendaraan tidak bisa masuk ke wilayah Luwu.
Saat aksi blokade jalan selama beberapa hari terakhir, aksi tersebut justru mendapat kecaman terutama dari warganet karena menyusahkan warga lainnya terutama pengguna kendaraan.
Netizen mengecam karena banyak kendaraan pengangkut BBM dan elpiji tidak bisa masuk ke wilayah Luwu sehingga harga komoditas itu melonjak hingga tiga kali lipat.
Sebuah mobil ambulans dari Morowali Utara juga terpaksa balik arah karena tidak bisa masuk wilayah Luwu dari arah Sulawesi Tengah.
Baca juga: Macet panjang di Luwu Utara akibat jalan ditutup pendemo
Baca juga: DPRD Sulsel sikapi aspirasi usulan pembentukan Provinsi Luwu Raya