Inovasi kunci daya saing industri rumput laut
Jumat, 13 November 2015 20:18 WIB
Ilustrasi rumput laut (ANTARA FOTO/Ekho Ardiyanto)
Makassar (ANTARA Sulsel) - Inovasi dalam melakukan diversifikasi produk menjadi kunci dalam memperkuat daya saing industri rumput laut di Indonesia.
"Setiap negara harus menggunakan kekuatannya sendiri. Jika Cina misalnya, dapat memproduksi secara massal dengan harga yang murah, maka Indonesia harus mampu memberi nilai tambah pada produk rumput lautnya dengan melakukan inovasi," kata Direktur Teknik PT Java Biocolloid Lino Paravano dalam jumpa pers International Seaweed Forum di Makassar, Jumat.
Ia mengatakan setiap negara harus mampu menggunakan caranya masing masing untuk unggul. Cina, kata dia, dengan jumlah penduduk hingga 1,1 miliar dan pemerintahan yang tertutup mampu membuat produk yang lebih murah.
"Tantangannya bagi Indonesia adalah bagaimana membuat produk yang kualitasnya lebih baik, jika produknya sama, pengusaha akan mencari yang lebih murah," katanya.
Dengan generasi muda Indonesia yang berpendidikan, Lino optimistis Indonesia mampu menciptakan inovasi yang semakin baik.
Hal senada dikatakan Sekertaris Jenderal Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) Arman Arfah. Inovasi, kata dia, penting untuk bersaing dengan industri rumput laut negara lain.
"Inovasi ini memang terus kami dorong dengan melakukan berbagai diversifikasi produk," ujarnya.
Sejauh ini, pihaknya telah menciptakan 27 aplikasi produk, seperti lotion, sabun dan shampo.
"Kami bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk terus melakukan inovasi, baik untuk produk edible dan non edible," ujarnya.
"Setiap negara harus menggunakan kekuatannya sendiri. Jika Cina misalnya, dapat memproduksi secara massal dengan harga yang murah, maka Indonesia harus mampu memberi nilai tambah pada produk rumput lautnya dengan melakukan inovasi," kata Direktur Teknik PT Java Biocolloid Lino Paravano dalam jumpa pers International Seaweed Forum di Makassar, Jumat.
Ia mengatakan setiap negara harus mampu menggunakan caranya masing masing untuk unggul. Cina, kata dia, dengan jumlah penduduk hingga 1,1 miliar dan pemerintahan yang tertutup mampu membuat produk yang lebih murah.
"Tantangannya bagi Indonesia adalah bagaimana membuat produk yang kualitasnya lebih baik, jika produknya sama, pengusaha akan mencari yang lebih murah," katanya.
Dengan generasi muda Indonesia yang berpendidikan, Lino optimistis Indonesia mampu menciptakan inovasi yang semakin baik.
Hal senada dikatakan Sekertaris Jenderal Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) Arman Arfah. Inovasi, kata dia, penting untuk bersaing dengan industri rumput laut negara lain.
"Inovasi ini memang terus kami dorong dengan melakukan berbagai diversifikasi produk," ujarnya.
Sejauh ini, pihaknya telah menciptakan 27 aplikasi produk, seperti lotion, sabun dan shampo.
"Kami bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk terus melakukan inovasi, baik untuk produk edible dan non edible," ujarnya.
Pewarta : Nurhaya J Panga
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulsel perkuat ekonomi biru berkelanjutan lewat bantuan bibit rumput laut
08 September 2025 13:52 WIB
Sulsel ganti pelampung botol plastik rumput laut dengan buoy ramah lingkungan
06 September 2025 5:26 WIB
ARLI-SCSFRI fasilitasi pelatihan peningkatkan budidaya perikanan dan rumput laut
01 December 2024 19:14 WIB, 2024
Unhas menggelar penyuluhan pencemaran plastik dan budi daya rumput laut
10 November 2024 13:22 WIB, 2024
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Belanja pemerintah pusat di Sulsel pada triwulan I 2026 mencapai Rp4,7 triliun
06 May 2026 14:22 WIB
BPS: Transportasi udara dan laut di Sulsel meningkat signifikan per Maret 2026
05 May 2026 20:59 WIB