Bioskop XXI Makassar Diprotes Alumni Santri
Minggu, 22 Oktober 2017 20:16 WIB
Makassar (Antara Sulsel) - Bioskop XXI di Makassar, Sulawesi Selatan diprotes dari kalangan alumni santri lantaran tidak memutar film Duka Sedalam Cinta karya anak santri Makassar yang bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional.
"Di saat kita merayakan secara nasional Hari Santri, tapi kebijakan bioskop XXI di Makassar tidak berpihak pada penghargaan karya-karya santri," sesal Ketua Ikatan Alumni Pesanten Muhammadiyah (Ikapem) Gombara Makassar, Arum Spink, Minggu.
Menurut dia, film tersebut sudah ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia sejak 19 Oktober 2017, namun hanya di Makassar saja yang tidak diputar, sehingga muncul pertanyaan ada apa dengan pihak pengelola bioskop tersebut.
Selain itu, anggota DPRD Provinsi Sulsel ini telah melayangkan protes kepada manajemen perusahaan Bioskop XXI, melalui telepon, tetapi jawaban yang disampaikan sangat klasik yakni kebijakan aturan manajemen.
"Saya sudah menyampaikan protes keras sekaligus mempertanyakan kenapa film Duka Sedalam Cinta tak tayang di studio-studio di Makassar, tapi tidak ditanggapi serius," ucap mantan Ketua KPU Bulukumba itu.
Rencananya, hari ini, sejumlah alumni pesantren bersama santri akan melaksanakan nonton bareng film `Duka Sedalam Cinta` karya Firmansyah, selaku director dan sutradara dalam film ini, diketahui santri pernah mondok selama enam tahun di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar.
"Kami para alumni bermaksud menyemarakkan hari santri yang jatuh pada hari ini, dengan melaksanakan nonton bareng bersama alumni dan para santri. Tapi sekali lagi kami kecewa karena film tersebut ternyata tidak ditayangkan," kata pria disapa akrab Pipink dengan nada kecewa.
Dalam narasi film Duka Sedalam Cinta itu, sebut Pipink, memberi pelajaran hidup bagi mereka yang akan berhijrah dan haus akan khazanah-khazanah kebaikan.
"Di dalamnya ada inpirasi dan penggalan-penggalan dakwah khususnya anak-anak muda di negeri ini. Itu tercermin dari film sebelumnya yakni Ketika Mas Gagah Pergi yang keduanya diambil dari karya Novel Helvy Tiana Rosa," tambahnya.
Pihaknya juga menyayangkan, film yang banyak mengumbar nafsu, kekerasan dan jauh dari kesan mendidik, malah ditayangkan, sementara yang berisi pendidikan dan inspirasi justru tidak ditayangkan," ungkap dia.
Berdasarkan alur cerita dalam film ini mengisahkan, sosok Gagah diperankam Hamas Syahid, pemuda tampan, cerdas dan idola para gadis, mengalami kecelakaan di suatu daerah di Maluku Utara.
Dirinya ditolong oleh Kyai Ghufron diperankan Salim A Fillah dan tinggal di pesantren milik kyai tersebut. Selama berada di sana Gagah belajar banyak tentang Islam.
Sekembalinya dari Maluku Utara, perubahan Gagah membuat Mama, diperankan Wulan Guritno, heran. Sedang adiknya yang tomboy, Gita diperankan Aquino Umar, salah paham.
Gita marah dan tidak bisa menerima perubahan Gagah.
Suatu ketika Gita bertemu Yudi diperankan Masaji Wijayanto, pemuda tampan misterius yang membuatnya simpati.
Gita juga berkenalan dengan Nadia diperankan Izzah Ajrina, yang baru kembali dari Amerika, dan Ibu Nadia diperankan Asma Nadia.
Gagah berusaha untuk terus berbaikan dengan Gita. Gagah yang menjadi relawan Rumah Cinta untuk pendidikan anak dhuafa dipinggiran Jakarta, bersama tiga preman insyaf diperankan Epi Kusnandar, Abdur, M Bagya, menyiapkan sebuah rencana yang bisa mengubah segalanya.
Namun sesuatu terjadi, membuat Gagah, Gita, Yudi dan Nadia bertemu dalam jalinan takdir yang membawa mereka pada Duka Sedalam Cinta, dan sebuah pertemuan tak terduga di Halmahera Selatan.
"Di saat kita merayakan secara nasional Hari Santri, tapi kebijakan bioskop XXI di Makassar tidak berpihak pada penghargaan karya-karya santri," sesal Ketua Ikatan Alumni Pesanten Muhammadiyah (Ikapem) Gombara Makassar, Arum Spink, Minggu.
Menurut dia, film tersebut sudah ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia sejak 19 Oktober 2017, namun hanya di Makassar saja yang tidak diputar, sehingga muncul pertanyaan ada apa dengan pihak pengelola bioskop tersebut.
Selain itu, anggota DPRD Provinsi Sulsel ini telah melayangkan protes kepada manajemen perusahaan Bioskop XXI, melalui telepon, tetapi jawaban yang disampaikan sangat klasik yakni kebijakan aturan manajemen.
"Saya sudah menyampaikan protes keras sekaligus mempertanyakan kenapa film Duka Sedalam Cinta tak tayang di studio-studio di Makassar, tapi tidak ditanggapi serius," ucap mantan Ketua KPU Bulukumba itu.
Rencananya, hari ini, sejumlah alumni pesantren bersama santri akan melaksanakan nonton bareng film `Duka Sedalam Cinta` karya Firmansyah, selaku director dan sutradara dalam film ini, diketahui santri pernah mondok selama enam tahun di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar.
"Kami para alumni bermaksud menyemarakkan hari santri yang jatuh pada hari ini, dengan melaksanakan nonton bareng bersama alumni dan para santri. Tapi sekali lagi kami kecewa karena film tersebut ternyata tidak ditayangkan," kata pria disapa akrab Pipink dengan nada kecewa.
Dalam narasi film Duka Sedalam Cinta itu, sebut Pipink, memberi pelajaran hidup bagi mereka yang akan berhijrah dan haus akan khazanah-khazanah kebaikan.
"Di dalamnya ada inpirasi dan penggalan-penggalan dakwah khususnya anak-anak muda di negeri ini. Itu tercermin dari film sebelumnya yakni Ketika Mas Gagah Pergi yang keduanya diambil dari karya Novel Helvy Tiana Rosa," tambahnya.
Pihaknya juga menyayangkan, film yang banyak mengumbar nafsu, kekerasan dan jauh dari kesan mendidik, malah ditayangkan, sementara yang berisi pendidikan dan inspirasi justru tidak ditayangkan," ungkap dia.
Berdasarkan alur cerita dalam film ini mengisahkan, sosok Gagah diperankam Hamas Syahid, pemuda tampan, cerdas dan idola para gadis, mengalami kecelakaan di suatu daerah di Maluku Utara.
Dirinya ditolong oleh Kyai Ghufron diperankan Salim A Fillah dan tinggal di pesantren milik kyai tersebut. Selama berada di sana Gagah belajar banyak tentang Islam.
Sekembalinya dari Maluku Utara, perubahan Gagah membuat Mama, diperankan Wulan Guritno, heran. Sedang adiknya yang tomboy, Gita diperankan Aquino Umar, salah paham.
Gita marah dan tidak bisa menerima perubahan Gagah.
Suatu ketika Gita bertemu Yudi diperankan Masaji Wijayanto, pemuda tampan misterius yang membuatnya simpati.
Gita juga berkenalan dengan Nadia diperankan Izzah Ajrina, yang baru kembali dari Amerika, dan Ibu Nadia diperankan Asma Nadia.
Gagah berusaha untuk terus berbaikan dengan Gita. Gagah yang menjadi relawan Rumah Cinta untuk pendidikan anak dhuafa dipinggiran Jakarta, bersama tiga preman insyaf diperankan Epi Kusnandar, Abdur, M Bagya, menyiapkan sebuah rencana yang bisa mengubah segalanya.
Namun sesuatu terjadi, membuat Gagah, Gita, Yudi dan Nadia bertemu dalam jalinan takdir yang membawa mereka pada Duka Sedalam Cinta, dan sebuah pertemuan tak terduga di Halmahera Selatan.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Makassar komitmen melindungi pesantren dan santri di Sitarupa 2025
28 October 2025 19:24 WIB
Ribuan santri dan ulama se-Indonesia Timur berkumpul di Makassar doakan NKRI
24 October 2025 10:36 WIB
Basarnas perkirakan 38 santri Ponpes Al Khoziny masih terjebak reruntuhan gedung
30 September 2025 13:39 WIB
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Kerusuhan hingga peternakan lebah, film Internasional di Oscar pada 2020
14 January 2020 8:50 WIB, 2020
Unismuh dan Litbang Kemenag luncurkan buku cerita berbahasa Bugis-Makassar
17 December 2019 14:01 WIB, 2019
Ratusan karya fotografer dibedah di "Kampoeng Fotografi 2019" Unhas
12 December 2019 20:17 WIB, 2019
Selasar Balai Kota Jakarta jadi ruang pameran foto peringati Hari Pahlawan
06 December 2019 19:47 WIB, 2019