Logo Header Antaranews Makassar

Sulsel Target Satu Juta Sapi Pada 2013

Rabu, 11 November 2009 01:52 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menargetkan, dapat meningkatkan populasi dan produksi ternak sapi hingga mencapai satu juta ekor pada 2013.

Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Muhammad Arifin Daud di Makassar, Rabu, mengatakan, saat ini populasi sapi Sulsel sudah mencapai 717.616 ekor dan akan memfokuskan pengembangan komoditi di 16 kabupaten/kota.

Menurutnya, ada beberapa strategi untuk dapat mencapai target satu juta sapi. Yakni, meningkatkan kelahiran melalui inseminasi buatan, kawin alam dan embrio transfer.

Selain itu, melakukan pengendalian baik pengendalian produksi, rumah potong hewan (RPH) dan pengendalian penyakit menular pada sapi.

"Embrio transfer baru mau kami uji coba, sebab biayanya cukup mahal, satu sampai dua juta rupiah sekali suntik," katanya.

Untuk sementara, kata dia, pemerintah mengefektifkan dua cara yaitu kawin alam dan inseminasi buatan. Untuk itu telah disediakan bibit unggul dari jenis Sapi Limousine dan Brahma, dengan jumlah indukan 47,5 persen dari total populasi.

Arifin menambahkan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan masih menjadi pangsa pasar dalam negeri utama sapi Sulsel. Sementara untuk ekspor, pemerintah fokus ke Malaysia dan Brunai Darussalam.

Namun sayangnya, kata dia, ekspor sapi dalam bentuk bibit terpaksa dihentikan sebab tidak sesuai dengan regulasi ekspor hewan pusat.

Sehingga pihak Pemprov Sulsel kini hanya menawarkan Malaysia dan Brunai Darussalam untuk berinvestasi peternakan di Sulsel.

"Kami menawarkan mereka berinvestasi RPH atau pabrik pengolahan daging sapi di Sulsel," katanya.

Ia menjelaskan, sampai saat ini produksi daging sapi sudah mencukupi kebutuhan Sulsel namun hal itu tidak diikuti tingkat produksi jeroan. Padahal setiap pedagang makanan Coto Makassar, memerlukan setidaknya 50 kg jeroan perhari.

RPH di Makassar, kata dia, memperoduksi maksimal 50 ekor sapi per hari dan setiap ekor hanya menghasilkan 20 kg jeroan. Sehingga total produksi jeroan hanya satu ton, sementara kebutuhan sekitar 300 pedagang Coto Makassar mencapai 16 ton per hari.

(T.PK-AAT/F004)