Logo Header Antaranews Makassar

Gerak Jalan 237 Km Peringatan Hari Infanteri

Sabtu, 19 Desember 2009 22:03 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Peringataan Hari Infanteri TNI Angkatan Darat (AD) dilaksanakan dengan gerak jalan peleton beranting oleh TNI Infanteri jajaran Kodam VII/Wirabuana dengan menempuh jarak sepanjang 237 kilometer.

"Gerak jalan peleton beranting ini merupakan tradisi tentara tempo dulu dan dengan semangat juang para pendahulu itu yang coba kami aplikasikan di masa sekarang," kata Kepala Penerangan Kodam VII/Wirabuana (Kapendam) Mayor Inf Rustam Effendi, di Makassar, Sabtu.

Ia mengatakan, jarak tempuh yang dilakukan prajurit TNI mengambil start di Lapangan Sumpang Binangae, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan selama dua hari.

Setibanya di Makassar Sabtu pagi, para prajurit itu kemudian mengikuti puncak peringatan Hari Infanteri dengan melakukan upacara di lapangan Hasanuddin Makassar dengan inspektur upacara Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo.

Dalam sambutan seragamnya, Komandan Pusat Persenjataan Infanteri Mayjen TNI Soenarko yang dibacakan Pangdam untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah serangan militer Belanda ke Kota Yogyakarta yang dikenal dengan Agresi Militer II.

Dimana pada 19 desember 1948 Panglima Besar Jenderal Soedirman mengeluarkan Perintah Kilat Nomor 1/PB/D/1948 yang ditujukan kepada angkatan perang RI untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan yaitu Perintah Siasat Nomor 1/1948 Tanggal 12 juni 1948 untuk melawan musuh dengan melaksanakan perang rakyat semesta.

Keterbatasan perlengkapan persenjataan yang dimiliki tentara keamanan rakyat tidak menyurutkan tekad dan semangat juang prajurit, sehingga pada akhirnya para pejuang berhasil memenangkan pertempuran untuk merebut kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi.

Peringatan ini juga untuk menghidupkan kembali dan memperkokoh tekad dan semangat juang setiap prajurit infanteri dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman yang menurutnya patut untuk dijadikan dasar pergerakan prajurit yakni tetap melaksanakan tugas tanpa adaya keinginan untuk penyalahgunaan jabatan dan kewenangan untuk nafsu kebendaan.

Namun hendaknya melaksanakan tugas karena panggilan ibu pertiwi atau negara dengan membaktikan jiwa dan raga untuk bangsa dan negara hingga perjuangan yang terakhir.

Meski beberapa terakhir ini tugas yang dihadapi TNI mengalami tantangan yang semakin kompleks seperti persoalan terbatasnya Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dan rendahnya anggaran pertahanan.

Ia mengharapkan setiap anggota infanteri tetap mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki dengan melakukan improvisasi dan optimalisasi, sehingga mampu meningkatkan kemampuan tanpa harus menyerah pada keadaan.

(T.PK-MH/S016)