
Tim CSP Sertifikasi Kakao Bantaeng

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Tim Cocoa Sustainibility Partnership (CSP) siap mensertifikasi produk kakao Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Tim berjumlah 43 orang itu dipimpin Prof Dr Silvia Syam bersama Dr Ade Rosmana serta Mr Eric Servat dari Rainforest Alliance serta didampingi Konsultan Rainforest Alliance, Carlos Piniera dan Forum Komunikasi Kakao.
Sebelum melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kakao yang selama ini menjadi binaan di Kecamatan Gantarangkeke, tim diterima Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah di rumah jabatan Bupati Bantaeng, Kamis.
Bupati berharap komoditi ini mendapat perhatian serius. Meski sudah ada Gerakan Nasional (Gernas) kakao yang sudah menghabiskan triliunan rupiah, namun produksi dan kualitasnya harus tetap mendapat perhatian semua pihak, terutama para pemerhati tanaman ini.
Saat krisis ekonomi melanda negeri ini, petani kakao membuktikan diri tetap tangguh. Karena itu, ketika tanaman ini mulai bermasalah kemudian muncul Gernas. "Seharusnya sebelum ada masalah, Gernas sudah ada agar kualitas produksi kita tetap terjamin," urainya.
Bantaeng yang memiliki wilayah terkecil di Sulsel harus bisa mengembangkan berbagai tanaman berbasis teknologi untuk menjadikan kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di bagian selatan Sulsel, ucap Bupati.
Ia kemudian mengemukakan sejumlah fasilitas yang dibangun dalam dua tahun terakhir, mulai dari pembangunan jalan baru hingga fasilitas tanggap darurat yang bersedia membantu masyarakat dalam 24 jam.
Angka kemiskinan juga berhasil ditekan dari 61 persen pada tahun 2007 menjadi 41 persen 2009. Tingginya angka kemiskinan saat itu menjadi ironi sebab potensi lahan daerah berjuluk Butta Toa ini yang memungkinkan.
"Bantaeng memiliki potensi dari pesisir hingga ke gunung, namun ternyata masyarakatnya miskin. Ini kan ironi," tuturnya seraya mengemukakan pentingnya membenahi sektor pertanian dan sektor lainnya.
Karena keterbatasan lahan, tak ada jalan lain, pembenahan harus dilakukan dengan menggunakan teknologi. Hasilnya, 20 varietas padi unggulan kini sudah tersedia.
"Kita juga berhasil mengembangkan padi varietas basmati dan keikon japonica. Dua jenis beras yang disukai masyarakat Timur Tengah dan Jepang," tambahnya sembari mengungkap komoditi lain yang sudah merambah manca negara melalui ekspor.
Ketiga komoditi itu masing-masing ekspor biji kapuk ke Korea Selatan sebanyak 300 ton/bulan, ekspor surimi ke Jepang yang merupakan hasil dari industri pengolahan ikan PT Global Seafood Internasional Indonesia dan segera disusul ekspor talas.
Komoditi talas jenis safira memiliki pasar yang terbuka lebar di Jepang. Negara Matahari terbit itu membutuhkan talas dalam jumlah besar, namun kemampuan kita masih terbatas.
Salah satu kendala pengembangannya adalah kesulitan bibit yang selama ini masih didatangkan dari Biotrop Indonesia. Ke depan, kita juga akan mengembangkan sendiri tanaman yang mengandung khasiat anti kanker dan diabetes serta mengandung kolagen tinggi ini, urainya.
(T.pso-102/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
