
Unhas Kukuhkan Tiga Guru Besar Kehutanan

Makassar (ANTARA News) - Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rabu, mengukuhkan tiga Guru Besar Fakultas Kehutanan di depan Rapat Senat Luar Biasa yang dipimpin Rektor/Ketua Senat Prof Idrus A Paturusi.
Ketiga Guru Besar Kehutanan itu adalah Prof Syamsul Alam A Panennungi Guru Besar Ilmu Kehutanan, Prof Amran Achmad Guru Besar Bidang Ilmu Ekologi Hutan dan Prof Samuel Arung Paembonan Guru Besar Bidang Ilmu Silvikultur.
Hasil kajian ekologi hutan bukit kapur di kawasan Kars Maros-Pangkep, khususnya keberadaan jenis-jenis tumbuhan yang berstatus dilindungi dan endemik sebagai sumber bahan obat-obatan, makanan, dan pakan satwa liar, serta pola sebaran komunitas dan invasi jenis eksotik, akan sangat bermanfaat dalam perencanaan, pengelolaan, dan aplikasi konservasi insitu dan eksitu, maupun untuk pengusulan situs warisan dunia.
Prof Amran Achmad dalam orasi ilmiahnya mengatakan pembelajaran tentang pemanfaatan berkelanjutan kawasan kars melalui kegiatan wisata di Bantimurung dan Ha Long Bay Vietnam, seharusnya dapat membuka mata semua pihak bahwa nilai rupiah yang besar tidak harus berkonsekuensi pengrusakan ekosistem kars melalui pertambangan, tetapi juga seharusnya bisa didapat secara berkelanjutan melalui pemanfaatan spesies dan ekosistem non-eksploitasi.
"Pemanfaatan seperti ini bukan hanya memberi manfaat ekonomi, seperti nilai air dari kawasan kars untuk mengairi areal persawahan, pengendalian hama penyakit dan serangga oleh satwa liar yang menghuni ekosistem hutan, produksi oksigen, pengikat CO2 serta berbagai fungsi lingkungan lainnya," kata Amran.
Usaha pemanfaatan ekosistem kars Maros-Pangkep dengan pendekatan konservasi, telah dan akan mendemonstrasikan upaya perlindungan monument alam yang menjadi kebanggaan bangsa dan masyarakat. Bahkan potensial menjadi kebanggaan dunia (world heritage site). Selain itu, usaha konservasi tersebut merupakan refleksi bentuk wujud nyata dari tanggung jawab moral masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya dan masyarakat Maros-Pangkep pada khususnya dalam memelihara sumber daya alam.
Prof Samuel Arung Paembonan mengatakan, guna mendorong pengurangan emisi Carbon Dioksida (CO2), akibat deforestasi dan degradasi hutan, dan agar hutan dapat memberikan kontribusi siginifikan terhadap stabilisasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer, salah satu solusinya adalah diperlukan pendekatan internasional yang dapat mendorong atau memungkinkan setiap negara pemilik hutan berpartisipasi dalam mengurangi emisi CO2, sesuai dengan kondisi masing-masing.
"Konservasi hutan menjadi lahan pertanian harus dilakukan dengan hati-hati, strategis, dan mengindahkan aspek berkelanjutan," ujar Samuel dalam orasi ilmiah berjudul "Peranan hutan dalam mengurangi emisi gas carnon dioksida (CO2).
Dia mengatakan, pembalakan kayu yang tidak terkendali, pembakaran, dan pembabatan hutan tropis harus dihentikan.
Menghentikan kerusakan skala besar yang diakibatkan oleh aktivitas penebangan dan pembakaran pada hutan gambut yang kaya akan karbon dan mampu mengeluarkan GRK dalam jumlah yang sangat besar.
Menurut Paembonan, memprioritaskan pembangunan hutan kota untuk meningkatkan penyerapan CO2 dan pollutan lainnya dari kendaraan dan industri. Meningkatkan cadangan karbon terutama pada tanah-tanah terdegradasi melalui usaha agroforestry pada lahan marginal.
Prof Syamsul Alam A Panennungi mengatakan, para petani yang bermukim dan berusaha tani di kawasan hutan mengakui, mereka merusak dan merambah hutan karena tidak ada pekerjaan lain, sementara di satu sisi mereka membutuhkan makan demi kelangsungan hidupnya.
Itulah hasil penelitian Syamsul Alam A Panennungi yang dituangkan dalam orasi ilmiah berjudul "Pelestarian hutan dan pengentasan kemiskinan melalui pengembangan kehutanan masyarakat (suatu tinjauan ekonomi kehutanan).
Para petani tahu tindakan tersebut melanggar aturan dan potensial merusak hutan, dan pendapatan mereka tetap rendah dan tidak terjangkau sarana prasarana ekonomi. Mereka tetap melakukan semata-mata untuk menyambung kehidupan kelouarganya.
"Seandainya ada pekerjaan lain yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik, maka kegiatan berusaha dalam kawasan hutan akan ditinggalkan," katanya. (T.pso-102/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
