Logo Header Antaranews Makassar

BEI optimistis di usia ke-29 jadi bursa yang kompetitif

Selasa, 13 Juli 2021 15:24 WIB
Image Print
Ilustrasi: Pengunjung mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama.

Jakarta (ANTARA) - Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis pada usianya yang ke-29 bisa menjadi bursa yang kompetitif ke depannya baik di skala regional maupun internasional.

"BEI akan tetap memberikan pelayanan yang terbaik serta terus berkembang menjadi bursa kompetitif dan mampu bersaing di kancah regional, maupun internasional. Ke depannya, BEI juga diharapkan dapat menjadi pilar perkembangan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan kokoh," kata Sekretaris Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono dalam pernyataandi Jakarta, Selasa.

Selama 29 tahun perjalanannya, BEI telah mencatatkan sejumlah pencapaian untuk perkembangan pasar modal Indonesia. Tonggak sejarah BEI setelah diprivatisasi pada 13 Juli 1992 adalah diberlakukannya otomasi perdagangan dengan Jakarta Automated Trading System (JATS). Kemudian, penerapan remote trading di pasar modal berhasil diimplementasikan pada 28 Maret 2002.

Berikutnya pada 30 November 2007 Bursa Efek Surabaya bergabung dengan Bursa Efek Jakarta menjadi BEI. kemudian implementasi JATS Next Generation (Next-G) dan Extensible Business Reporting Language (XBRL) pada 22 Juni 2015, dan mulai mensosialisasikan Kampanye Yuk Nabung Saham pada 2015.

BEI melakukan Margin Trading Regulation Easing pada 2017 dan implementasi penyelesaian transaksi T+3 ke T+2 pada 2018. Selama tiga tahun berturut-turut sejak 2017-2019, BEI menerima penghargaan HR Asia Best Companies to Work. Pada 2019, BEI bergabung dengan Sustainable Stock Exchange, menambah papan baru perdagangan, yaitu papan akselerasi, meluncurkan Indeks IDX Value30 dan IDX Growth30, serta merelaksasi Exchange-Traded Fund (ETF).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun ini mengalami perubahan sebesar 1,02 persen pada level 6.039,84 sampai dengan 9 Juli 2021 dibandingkan dengan akhir tahun lalu dengan rata-rata nilai transaksi hingga awal Juli mencapai Rp13,3 triliun dan rata-rata volume transaksi per hari mencapai 18,8 juta saham.

Selain itu frekuensi transaksi harian tumbuh lebih dari 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 1,2 juta kali, menempati posisi pertama di ASEAN. Sampai dengan 9 Juli 2021, BEI telah berhasil menorehkan pencatatan efek baru yang terdiri dari 26 pencatatan efek saham, tiga obligasi baru, satu ETF baru, dan satu Efek Beragun Aset (EBA).

Data sampai dengan Juni 2021, jumlah investor telah mengalami peningkatan 44 persen menjadi 5,6 juta investor untuk total investor saham, obligasi, dan reksa dana berdasarkan Single Investor Identification (SID). Khusus untuk investor saham, peningkatan telah terjadi sebesar 48 persen menjadi 2,5 juta investor saham.

"Semua pencapaian ini tentunya merupakan kerja keras seluruh stakeholders pasar modal Indonesia," ujar Yulianto.

Selain itu pada awal 2021 BEI telah meluncurkan klasifikasi industri baru untuk perusahaan tercatat pada 25 Januari 2021, serta peluncuran indeks syariah baru, yakni Indeks IDX-MES BUMN 17 pada 29 April 2021.

Selain implementasi serangkaian program strategis yang ditargetkan untuk rampung pada tahun ini, BEI masih melakukan pengembangan peraturan Multiple Voting Share (MVS) untuk mengakomodir Initial Public Offering (IPO) dari para perusahaan unicorn, pengembangan edukasi investor berbasis teknologi, penyempurnaan mekanisme perdagangan, optimalisasi sistem pengawasan, pengembangan sistem co-location Anggota Bursa (AB), sampai dengan optimalisasi layanan Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA).



Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2026