
Peternak Sapi Sulbar Diminta Andalkan Perbankan

Mamuju (ANTARA News) - Pengusaha peternak sapi di Provinsi Sulawesi Barat diminta mengandalkan kredit dari perbankan dalam mengembangkan usaha peternakannya agar produksi sapi meningkat.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Peternak Indonesia (HPI) Rudy Prayitno mengatakan hal itu usai melantik Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) HPI Sulbar Henrik Malaha, di Mamuju, Rabu.
Ia mengatakan peternak sapi di Sulbar diminta mengandalkan perbankan dalam mengembangkan usaha peternakannya, karena perbankan telah menyediakan modal usaha bagi pengembangan peternakan sapi para peternak.
Menurut dia, perbankan telah menyediakan bantuan modal usaha yang diprogramkan dalam bentuk kredit usaha pembibitan sapi (KUPS), dan bantuan kredit tersebut sangat meringankan peternak sapi karena bunganya hanya lima persen.
"Bantuan kredit untuk pengadaan bibit sapi itu juga dianggap lebih meringankan, karena diberikan kemudahan untuk dikembalikan ke bank, karena jangka waktu pengembaliannya bisa dilakukan setelah dua tahun kemudian," katanya.
Ia mengatakan selain menyediakan kredit pembibitan sapi, perbankan juga menyediakan kredit pembibitan unggas untuk memberikan kemudahan peternak unggas dalam mengembangkan usahanya.
"Hendaknya kredit itu dapat dimanfaatkan para peternak unggas agar dapat lebih meningkatkan produksinya, dengan mengajukan permohonan kredit ke bank," katanya.
Ia mengatakan kredit unggas tersebut juga mudah dipenuhi karena bunganya rendah, hanya sekitar enam persen, dan juga dapat dikembalikan dalam waktu dua tahun.
"KUPS dan kredit unggas tersebut didanai APBN, dan sayang kalau tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, peternak harus memaksimalkan diri mendapatkan bantuan ini dengan memberikan jaminan usaha," katanya.
Ia meminta kepada pemerintah di daerah juga dapat mendukung program tersebut dengan membantu peternak seperti di Sulbar agar mudah mendapatkan bantuan itu dengan memberikan jaminan kepada pihak perbankan.
"Pemerintah tidak perlu khawatir memberikan jaminan, memang itu sudah risiko menjadi pelayan masyarakat demi peningkatan produksi daging dari hasil ternak, guna mewujudkan Indonesia swasembada daging pada 2014," katanya.(T.KR-MFH/M008)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
