
Dinas : Penyebaran Virus Flu Burung Dapat Dikendalikan

Makassar (ANTARA News) - Penyebaran virus flu burung di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, telah dapat dikendalikan tetapi harus tetap diwaspadai, kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sulsel Murtala Ali di Makassar, Sabtu.
"Penyebaran virus flu burung telah terkendali, tidak berkembang lagi. Penyebarannya hingga 11 kecamatan dengan jumlah ayam ternak mati mencapai lebih dari 200 ribu ekor dalam waktu hampir satu bulan," jelasnya.
Total disinfektan yang disemprotkan hingga kini mencapai 1,5 juta liter di Kabupaten Wajo, Soppeng, dan Kabupaten Sidrap.
Langkah selanjutnya adalah melakukan antisipasi agar virus itu tidak kembali menyebar.
"Gubernur sudah mengeluarkan surat edaran untuk bupati dan wali kota yang meminta mereka melakukan langkah antisipasi dan terus melakukan pembinaan kepada petani," katanya.
Penyebaran virus, lanjutnya, juga telah diantisipasi di daerah-daerah perbatasan antara Sidrap dengan Kota Pare Pare, Kabupaten Pinrang, Enrekang, Palopo, Wajo dan Soppeng.
Langkah pencegahan juga dilakukan bersama asosiasi ayam ketawa yaitu dengan menyepakati bahwa setiap ayam ketawa harus memiliki bukti telah divaksinasi.
"Vaksinasi seharusnya setiap tiga bulan, namun kadang baru dilakukan lebih dari itu. Kemungkinan karena produktivitas ayam turun setelah divaksin, memang biasa seperti itu," jelasnya.
Terkait dugaan penyebaran virus flu burung menjadi pemicu kenaikan harga ayam dan telur di sejumlah kabupaten, ia membantahnya.
"Saya kira tidak, itu kan terjadi setiap Ramadhan karena permintaan meningkat. Tapi tidak sampai di atas 10 persen, mungkin ada kasus per kasus, secara umum tidak mempengaruhi pasar," ujarnya.
Dinas Peternakan Kabupaten Sidrap mencatat sejak April hingga Juli 2011 jumlah ayam yang mati akibat flu burung mencapai 184.171 ekor dari 11 kecamatan.
Jumlah ayam yang mati tersebut terdiri atas ayam ras petelur sebanyak 125.605 ekor, ayam ras pedaging 40.005 ekor dan ayam buras 18.561 ekor. (T.KR-RY/N002)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
