
Tokoh Masyarakat Harap SPSI Freeport Lebih Bijaksana

Timika (ANTARA News) - Tokoh masyarakat Mimika, Papua, Yosep Yopi Kilangin mengharapkan agar Serikat Pekerja PT Freeport Indonesia lebih bijaksana dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan karyawan dengan tetap mempertimbangkan kepentingan banyak orang.
Berbicara kepada ANTARA di Timika, Senin, Yopi Kilangin mengatakan sangat menghormati perjuangan Serikat Pekerja untuk meningkatkan derajat kesejahteraan karyawan, namun dampak dari aksi mogok terhadap kehidupan banyak orang terutama masyarakat yang bermukim di kampung-kampung pedalaman juga harus menjadi pertimbangan dan perhatian serius.
"Silahkan teman-teman jalan terus dengan perjuangannya, tapi carilah solusi yang bijaksana demi kepentingan banyak orang. Bentuk-bentuk perjuangan teman-teman harus menjamin keselamatan banyak orang, daripada hanya mementingkan kepentingan sepihak," tutur Yopi.
Mantan Ketua DPRD Mimika periode 2004-2009 itu menuturkan, sejak operasi penerbangan pesawat perintis ke kampung-kampung pedalaman Mimika maupun sejumlah kabupaten tetangga dihentikan total sejak awal Oktober 2011 karena ketiadaan avtur, masyarakat yang tinggal di pedalaman sangat merasakan dampaknya.
Suplai barang kebutuhan pokok masyarakat seperti beras dan lain-lain sudah sekian bulan tidak lagi bisa dilakukan. Demikian pun pelayanan kesehatan kepada warga yang sakit di pedalaman tidak bisa dilakukan karena ketiadaan armada pesawat.
Kasus seperti itu, katanya, terjadi pada salah seorang warga di Kampung Tsinga, Distrik Tembagapura. Warga yang belum diketahui identitasnya itu meregang nyawa setelah mengalami pendarahan karena kakinya terkena parang. Pihak keluarga sebetulnya telah berupaya untuk mengevakuasi korban ke Timika untuk dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM). Namun pesawat perintis yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang karena ketiadaan avtur di Bandara Timika sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.
"Ada warga di Tsinga yang tidak bisa tertolong karena tidak ada pesawat untuk evakuasi dia ke Timika," tutur Yopi sembari menambahkan banyak kasus kelaparan hingga menewaskan banyak warga terjadi di kampung-kampung pedalaman Papua saat ini akibat terhentinya penerbangan pesawat perintis dari Timika.
Yopi sangat berharap Serikat Pekerja PT Freeport dengan jiwa besar dan bijaksana segera membuka blokade jalan di Check Point 1 Mil 28 dan Mil 27 samping Bandara Mozes Kilangin Timika dan mengembalikan lokasi aksi mogok karyawan ke pintu gerbang Kuala Kencana sebagaimana terjadi sejak 15 September hingga 9 Oktober 2011.
"Blokade jalan selama ini ternyata mengganggu kehidupan banyak orang. Mari berfikir lebih bijaksana bagaimana memperjuangkan hak tapi tidak merugikan orang lain. Menjelang Natal dan pergantian tahun kita berharap karyawan segera membuka blokade jalan," pinta Yopi yang juga tokoh masyarakat Suku Amungme itu.
Ia menilai perjuangan Serikat Pekerja PT Freeport murni untuk meningkatkan derajat kesejahteraan karyawan perusahaan tambang emas, tembaga dan perak itu. Namun tanpa disadari oleh karyawan, kondisi itu cenderung dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk memperjuangkan isu-isu dan kepentingan-kepentingan politik lain yang lebih besar.
"Situasi yang terjadi saat ini di PT Freeport, dimanfaatkan oleh pihak lain untuk tujuan-tujuan tertentu yang lebih besar. Itu semakin terbuka. Ada kelompok-kelompok lain yang terus memanfaatkan situasi ini," ujar Yopi.
Hingga saat ini manajemen PT Freeport dan pihak Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja PT Freeport masih berada di Jakarta untuk menyelesaikan masalah hubungan industrial diantara mereka.
Aksi mogok kerja ribuan karyawan PT Freeport saat ini sudah memasuki bulan ketiga sejak 15 September 2011 sebagai buntut dari belum tercapainya kesepakatan untuk menetapkan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) XVII periode 2011-2013. (T.E015/E001)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
