
Sri Paus : Dialog Butuh Keheningan dan Kata

Kupang (ANTARA News) - Paus Benedictus XVI berpendapat untuk mencapai sebuah dialog yang otentik dalam membangun hubungan kedekatan yang mendalam di antara sesama manusia, membutuhkan dua aspek komunikasi yang patut dipertahankan, yakni keheningan dan kata.
"Ketika kata dan keheningan terpisah satu dengan yang lain, komunikasi menjadi putus entah karena keterpisahan itu yang menimbulkan kebingungan atau sebaliknya menciptakan suasana dingin. Apabila dua aspek komunikasi itu saling melengkapi maka dialog di antara sesama manusia menjadi bernilai dan bermakna," kata Sri Paus.
Demikian pesan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia itu dalam memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46, minggu, yang disampaikan oleh para imam Katolik dalam misa hari minggu di semua gereja yang ada dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Paus asal Jerman itu, keheningan adalah unsur yang utuh dari komunikasi. Tanpa keheningan, kata yang kaya pesan sekalipun menjadi tak bermakna, karena dalam keheningan setiap orang mampu mendengar dan memahami dirinya sendiri, gagasan-gagasan dapat lahir dan mencapai kedalaman makna.
"Dalam keheningan, kita memahami dengan lebih jelas apa yang ingin kita katakan, apa yang kita harapkan dari orang lain dan bagaimana mengungkapkan diri. Dengan keheningan, kita membiarkan orang berbicara dan mengungkapkan dirinya," ujarnya.
"Kita mencegah diri kita terpatok pada kata-kata dan gagasan kita sendiri tanpa ditelaah secara memadai. Dengan demikian, ruang yang diciptakan untuk saling mendengar dan membangun hubungan manusiawi menjadi lebih mungkin," tambahnya.
Paus Benedictus menambahkan ketika pesan dan informasi melimpah ruah, keheningan menjadi hakiki untuk membedakan mana yang penting dan mana yang tidak berguna atau sekuder.
"Permenungan yang lebih mendalam membantu kita menemukan jalinan antara peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan, mengevalusasi, menganalisis pesan dan hal ini memungkinkan kita berbagi pendapat yang bijaksana dan relevan, sehingga melahirkan suatu stuktur otentik mengenai pengetahuan yang kita miliki bersama," katanya.
Menurut Sri Paus, proses komunikasi yang terjadi saat ini sebagian besar dipicu oleh pertanyaan pencarian jawaban, dan mesin pencari dalam jejaringan sosial telah menjadi titik awal komunikasi bagi banyak orang yang mencari saran, gagasan, informasi dan jawaban.
Di zaman sekarang, tambahnya, internet lebih menjadi sebuah forum untuk pertanyaan dan jawaban, karena manusia dewasa ini sering diterpa dengan jawaban-jawaban untuk pertanyaan yang tidak pernah mereka ajukan dan kebutuhan yang tidak pernah mereka sadari.
"Bila kita mengenal dan berfokus pada pertanyaaan-pertanyaan yang sungguh-sungguh penting, maka keheningan adalah suatu modal berharga yang memampukan kita untuk memiliki keterampilan membedakan secara tepat berhadapan dengan meningkatnya stimulus dan data yang kita terima," ujar Sri Paus.
Paus Benedictus mengatakan di tengah kerumitan dan keragaman dunia komunikasi, banyak orang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan utama tentang keberadaan manusia, seperti "siapakah saya? apa yang dapat saya tahu? apa yang harus saya lakukan dan apa yang boleh saya harapkan?".
Menurut Sri Paus, hal ini penting untuk memberikan jawaban kepada mereka yang seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan serupa dan membuka kemungkinan untuk sebuah dialog yang mendalam---melalui sarana kata-kata dan tukar pikiran--tetapi juga melalui panggilan untuk permenungan yang hening.
"Ketika manusia berbagi informasi, mereka telah berbagi diri mereka, pandangan mereka tentang dunia, harapan dan gagasan mereka," katanya seperti pesan yang disampaikan pada Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011.
Sri Paus juga mengingatkan semua umat manusia untuk menaruh perhatian penuh terhadap berbagai jenis website (laman), aplikasi dan jejaring sosial yang dapat membantu manusia zaman ini menemukan waktu untuk permenungan dan pertanyaan sejati sekaligus menciptakan ruang untuk keheningan dan kesempatan untuk berdoa dan meditasi.
Dalam hubungan dengan ini, kata Paus Benedictus, tidak terlalu mengherankan jika berbagai tradisi agama yang berbeda menganggap kesendirian dan keheningan sebagai suatu keadaan yang membantu manusia menemukan kembali diri mereka dan kebenaran yang memberikan makna bagi segala hal.
"Kontemplasi hening menyelimuti kita di dalam sumber cinta kasih yang menuntun kita bertemu dengan sesama sehingga kita dapat merasakan penderitaan mereka dan menyampaikan kepada mereka terang Kristus, amanat kehidupan dan karunia penyelamatan-Nya yang penuh kasih," katanya.
Kata dan keheningan, kata Sri Paus, menuntut setiap orang untuk belajar berkomunikasi dengan cara mendengar dan merenung sebagaimana berbicara, dan hal ini sangat penting bagi mereka yang terlibat dalam karya evangelisasi, baik keheningan maupun kata adalah unsur hakiki, bagian utuh karya komunikasi Gereja demi pembaruan karya pewartaan Kristus di zaman sekarang. (T.pso-084/L003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
