Logo Header Antaranews Makassar

Suasana Indonesia di Belanda

Kamis, 28 Mei 2009 04:27 WIB
Image Print

Oleh Rahma Saiyed

Den Haag (ANTARA Sulsel) - "Cinta... Cinta... Cinta... Indonesia...," demikian sepenggal lirik Norma Yunita yang dilantunkan untuk menyemarakkan kegiatan promosi kesenian dan kebudayaan Indonesia dihadapan sejumlah investor dan warga negara Belanda, di Hotel Kurhaus, Den Haag, pada 26 Mei.

Lagu yang populer pada 1980-an itu olah membawa pengunjung dan perhatian para hadirin, baik warga negara Indonesia yang berada di Belanda maupun warga Belanda, serasa berada di tanah air.

Satu per satu, jenis tarian dari beberapa daerah di Indonesia ditampilkan dihadapan para hadirin. Alat musik angklung binaan daeng Udjo pun tak ketinggalan. Instrumen musik angklung itu dipadukan dengan alat musik moderen, membuat penonton terkesima mendengarnya.

"Terasa seperti di kampung sendiri. Saya rindu ingin balik ke Indonesia," kata seorang warga negara Indonesia, Malik, yang mengaku telah menetap di Belanda selama 44 tahun.

Selama berada di perantauan, kata dia, dirinya semakin mengakui bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia tidak hanya pada sumber daya alamnya, tetapi juga kesenian dan kebudayaan.

Meski berbeda-beda lanjutnya, tetapi mereka bisa hidup bersama dengan kebiasaan masing-masing yang tentunya tidak sama, terutama masalah kebudayaan.

Suasana serupa dapat pula ditemui di Tong Tong Fair (TTF) 2009.

Pameran terbesar di Eropa yang dilaksanakan setiap tahun di Den Haag itu menampilkan sejumlah atraksi, kesenian hingga jenis makanan dan berbagai produk Indonesia. Kegiatan itu berlangsung sejak 21 Mei hingga 1 Juni.

Suasana keindonesiaan yang berada di pameran tersebut menghibur masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang telah puluhan tahun menetap di Belanda dan tidak pernah kembali ke tanah air lagi.

"Kami sangat senang karena masih bisa merasakan suasana Indonesia di tempat ini. Sejak pemerintahan Soekarno hingga sekarang ini, Bapak tidak pernah lagi menginjak Indonesia," ujar Piet Haruna, lelaki berusia 61 tahun yang telah menjadi warga negara Netherlands.

Meski telah menjadi warga negara Belanda, namun dia mengaku bahwa hatinya masih memiliki jiwa nasionalisme Indonesia.

Di hadapan beberapa para pengunjung, dia sempat melantunkan lagu "Torang Semua Basudara" dan bersenam poco-poco.

Selain hiburan, para pengunjung juga bisa menikmati makanan khas Indonesia yang disajikan oleh masing-masing daerah, seperti gado-gado, empek-empek, cendol, martabak telor, dan pisang goreng.

Kegiatan pameran itu diikuti sejumlah pelaku industri pariwisata dan pengusaha kalangan menengah asal Indonesia. Di antara mereka, ada yang menjual batik dan berbagai aksesoris khas Indonesia. Tak ketinggalan pula, sejumlah pengusaha dari berbagai negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, Belgia, turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.


Ajang promosi

Kegiatan Tong Tong Fair (TTF) dijadikan pula sebagai sarana untuk bernostalgia oleh orang-orang Belanda yang pernah menetap di Indonesia pada zaman dahulu.

"Setidaknya, kehadiran pameran ini akan membuat mereka terkenang dengan masa lalunya," ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik usai meresmikan Paviliun Indonesia di TTF.

Kehadiran pameran itu, kata dia, menjadi ajang promosi pariwisata pula bagi Indonesia.

"Tahun depan, kita harus promosikan Indonesia lebih besar lagi di sini. Kita nanti akan memperbanyak dan menampilkan jenis musik dan tarian Indonesia dari masing-masing daerah. Pasar malam tong tong ini adalah pasar malamnya Indonesia," kata dia.

Dari kegiatan pameran tersebut, Jero optimistis bila Indonesia mampu menggaet sebanyak 500 ribu wisatawan asal Belanda.

Keyakinannya tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa Garuda Indonesia yang akan diizinkan kembali untuk melakukan penerbangan langsung menuju negara-negara Eropa, tahun ini.

Selain itu, kata dia, wisatawan Belanda banyak yang berminat melakukan kunjungan ke Indonesia, mengingat kedua negara memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan.

"Meski di antara mereka ada yang mengunjungi Indonesia dengan alasan hanya untuk mengunjungi makam opa-omanya, itu menjadi potensi paket wisata bagi negara kita," katanya.

Optimisme itu juga dilontarkan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda JE Habibie.

Dia mengatakan, dari sekitar 17 juta penduduk Belanda, 1,7 juta jiwa di antaranya memiliki hubungan kekeluargaan dengan masyarakat Indonesia, misalnya dari pernikahan.

Selain itu lanjut dia, kondisi Indonesia saat ini juga telah membaik dam terjamin keamanannya.

Menurut dia, wisatawan yang enggan berkunjung ke Indonesia pada dasarnya hanya khawatir pada masalah terorisme dan penyebaran penyakit.

Namun kekhawatiran tersebut, kata dia, bisa ditepis dengan adanya promosi besar-besaran yang dilakukan Indonesia di negara-negara Eropa, di antaranya Jerman, Inggris, dan Belanda.

Menurut dia, Indonesia juga memberikan kemanjaan dan kemudahan bagi wisatawan mancanegara yang ingin melakukan perjalanan ke Indonesia. Mereka dapat menggunakan "visa on arrival" dengan masa berlaku sebulan.

"Bila jumlah wisatawan di negara kita naik, maka industri perdagangan pun akan turut naik," kata dia.

Sebab itu, menurut Habibie, pemerintah dapat pula memberikan perhatian yang serus terhadap sektor pariwisata ini, mengingat pemasukan yang diperoleh dari pendapatan ini mencapai sekitar 7,5 miliar dolar Amerika Serikat, sementara dana APBN yang dialokasikan pada sektor ini hanya mencapai sekitar Rp1,1 triliun.

"Kita akan tetap menggenjot wisatawan untuk mau datang ke Indonesia, meski dengan keterbatasan dana," ujar adik mantan Presiden BJ Habibie itu.

(T.K-RS/s018)