
Indonesia Kembali Pimpin CAPDI

"Langkah selanjutnya yang akan saya jalankan adalah bagaimana bekerja berdasarkan organisasi dan kepentingan bersama," kata Jusuf Kalla di Makassar, Selasa.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Konferensi kedua Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) menghasilkan ketua umum baru. Untuk ketigakalinya, Jusuf Kalla, mewakili Indonesia secara aklamasi terpilih menjadi Chairman CAPDI periode 2013-2017.
Periode pertama saat CAPDI dibentuk di Filipina pada 2006 dan kedua, saat 1st General Assembly di Kamboja tahun 2010.
"Langkah selanjutnya yang akan saya jalankan adalah bagaimana bekerja berdasarkan organisasi dan kepentingan bersama," kata Jusuf Kalla di Makassar, Selasa.
Selain Jusuf Kalla, Erwin Aksa juga kembali ditunjuk sebagai bendahara CAPDI untuk kedua kalinya. Perwakilan Indonesia di CAPDI lainnya antara lain Theo L Sambuaga, Agung Laksono (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI) dan Nurhayati Assegaf (perwakilan Partai Demokrat).
Wakil Perdana Menteri Kamboja yang juga Vice President CAPDI, Sok An, mengapresiasi terpilihnya kembali Jusuf Kalla.
"Beliau sangat berjasa di CAPDI. Saya sangat mengapresiasi dan menghargai kepemimpinan Jusuf Kalla pada periode sebelumnya," katanya.
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Pakistan sekaligus Sekjen terpilih CAPDI, Muhammad Husain Sayed menyatakan hal serupa.
"Kami mendukung, mengapresiasi dan mempercayai kembali Pak Jusuf Kalla, karena pengalaman, rekam jejak, dan upaya-upayanya dalam hal kemanusiaan dan rekonsoliasi telah terbukti. Misalnya di Rohingya dan Aceh," katanya.
Konferensi Second General Assembly CAPDI di Makassar pada 21-22 Mei 2013, dihadiri ratusan peserta dan delegasi dari 20 negara.
Diantaranya 25 anggota resmi CAPDI, 48 orang undangan spesial, 39 rombongan Pemerintahan Kamboja, dan 12 delegasi Filipina, serta utusan dari negara-negara lain seperti Inggris, Spanyol, Kanada dan lain-lain di Asia Pasifik. Agus Setiawan
Pewarta : Riesmawan Yudhatama
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
