Logo Header Antaranews Makassar

Optimalisasi Peran Pemilih Pemula Hadapi Pemilu 2014

Kamis, 30 Januari 2014 13:49 WIB
Image Print

BerdasarkanUU No. 10 tahun 2008 dalam Bab IV pasal 19 ayat 1 dan 2 serta pasal 20menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemilih pemula adalah warga Indonesiayang pada hari pemilihan atau pemungutan suara adalah Warga Negara Indonesiayang sudah genap berusia 17 tahun dan atau lebih atau sudah/pernah kawin yangmempunyai hak pilih, dan sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuanUndang-Undang Pemilu.

Data dari komisioner KPU Pusat menyebutkan bahwa jumlahpemilih pemula pada Pemilu 2014 nanti yang berusia 17 sampai 20 tahun sekitar14 juta orang, sedangkan yang berusia 20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa.Dari data tersebut, pemilih pemula merupakan pemilih yang dinilai sangatpotensial.

Pemilih pemula sebagai bagian dari seluruhpemilih di Indonesia yang memiliki peran besar bagi kemajuan bangsa tidak bolehmenganggap remeh dunia politik, khususnyapartisipasi mereka dalam pemilih umum. Aristoteles (384-322 SM), menyatakandalam ajaranya, bahwa manusia adalah Zoon Politicon, artinya manusiadikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Olehsebab itu, pemuda sebagai pemilih pemula harus berkontribusi dalam mencapaikeberhasilan pemilu 2014.

Perilaku pemilih pemula yang cenderung tidak peduli dan labilterhadap dunia politik yang menyebabkan kesadaran berpolitik kurang danmengakibatkan partisipasi dalam pemilihan umum menjadi rendah. Hal tersebutperlu segera diatasi oleh KPU sebagai lembaga pemilihan umum di Indonesia,sebab pemilih pemula penting karena apa yangmenjadi pengalaman pertama akan tertanam bagus di dalam otak mereka.

Hal ini juga menjadi investasi bagi KPU untukpemilihan selanjutnya agar menciptakan pemilih pemula yang mempunyai kesadaranyang tinggi terhadap kehidupan politik di Indonesia.

Cara-cara yang dapat dilakukan oleh KPUmaupun lembaga lain yang peduli terhadap kehidupan politik di Indonesia dalammengoptimalkan peran pemilih pemula agar angka partisipasi pemilih pemula naik untukmenyukseskan pemilu di Indonesia bisa dilakukan dengan berbagai cara, antaralain melalui pendidikan politik yang terstruktur dan kontinu, pemanfaatan mediasosial sebagai sarana sosialisasi, dan mengoptimalkan media massa.

Pendidikanpolitik (civil education) yang terstruktur dan kontinu bagi pemilihpemula perlu digelar untuk meningkatkan partisipasi dalam pelaksanaan pemilu.Kebijakan ini penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalampelaksanaan pemilu khususnya pemilih pemula dengan menggunakan hak suaranya.

Pendidikanpolitik untuk pemilih pemula sebagian besar diperoleh dari informasi mediamassa yang cenderung menampilkan sisi buruk dari perilaku elite politik dan inimempengaruhi minat pemilih pemula. Hal ini mengakibatkan pendidikan politikbagi pemilih pemula menjadi tidak optimal dan seharusnya di hindari olehpelaku-pelaku media massa yang tidak hanya mencari keuntungan saja.

Pendidikanpolitik dapat diterapkan di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi, karenakebanyakan para pemilih pemula berada di lingkungan itu. Hal ini dapatdilakukan melalui sosialiasi-sosialisasi, kurikulum khusus mengenai politikseperti kewajiban bela negara yang diterapkan di lingkungan tersebut.

Carayang kedua adalah melalui pemanfaatan media sosial. Sekarang ini tidak bisadipungkiri lagi bahwa akses ke media sosial hampir bisa diakses oleh semua orang.Hal ini menjadikan media sosial menjadi sarana yang sangat potensial sebagaisarana sosialisasi, baik yang dilakukan oleh KPU maupun yang dilakukan olehpartai politik untuk mendulang suara dari para pemilih pemula.

Pemanfaatanmedia sosial sebagai sarana sosialisasi mempunyai banyak keuntungan,diantaranya ialah biaya yang relatif murah, bisa diakses oleh semua kalangan,dan tidak terbatas ruang dan waktu.

Selanjutnyaialah pengoptimalan peran media massa. Sebagian besar setiap informasi mengenaiperkembangan dunia sekarang ini disampaikan melalui media massa. Media massamempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan opini masyarakat. Olehsebab itu, media massa perlu memberikan sosialisasi mengenai pemilu untukpemilh pemula, seperti dibuat kolom khusus untuk menerima aspirasi para pemilihpemula.

Diharapkanmedia massa tidak hanya mencari keuntungan saja dan menjadi pesanan partaipolitik tertentu, karena hal ini bisa menyebabkan pemberitaan politk yang tidakseimbang yang menggambarkan keadaan sosok seorang calon legislatif dan partaipolitik yang tidak sebenarnya.

Pemilihpemula yang memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kehidupan politik diIndonesia sangat diharapkan oleh semua kalangan karena kemajuan bangsa ini tergantungdari para pemuda sebagai pemilih pemula dan kelak yang akan menjadi pemimpin diNegara ini adalah mereka.

BungKarno pernah berkata, Beri Aku sepuluh pemuda, Niscaya kuguncangkan duniabukan merupakan isapan jempol belaka. Olehsebab itu, dukungan dari semua pihak khusunya pemilih pemula sangat diperlukandemi kesuksesan pemilu 2014 untuk kemajuan bangsa tercinta ini.

*)Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Makassar



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026