Makassar (ANTARA) - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin berharap Festival Bulan Budaya Kota Makassar 2025 bertajuk “Makassar Mulia, Makassar Berbudaya” itu menjadi kesempatan baik untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya setempat.
"Kita berharap Festival Bulan Budaya 2025 ini menjadi momentum memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Makassar, sekaligus menghidupkan sektor ekonomi kreatif melalui pariwisata budaya," ujarnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.
Appi --sapaan akrab Munafri Arifuddin-- itu, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus memperingati Hari Budaya Ke-7 Kota Makassar serta menjadi bagian dari rangkaian HUT Ke-80 Kemerdekaan RI di daerah itu.
Ia membuka perayaan dengan mengenakan jas tutup adat Bugis Makassar itu menendang bola takraw sebagai simbolisasi dimulai perayaan Bulan Budaya dan Karnaval secara resmi.
"Di festival ini, kita tidak menonjolkan ragam budaya sebagai perbedaan, tapi sebaliknya jadikan perbedaan sebagai perekat persatuan” katanya.
Pada kegiatan itu, ia menyampaikan Festival Bulan Budaya Kota Makassar akan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Makassar yang jatuh di setiap 1 April.
"Di setiap tanggal 1 April kita akan memperingati hari kebudayaan di Kota Makassar dengan berbagai macam acara yang akan kita buat. Lalu untuk puncaknya, kita mengikuti peringatan hari budaya secara nasional pada 17 Oktober," katanya.
Sejalan dengan keinginan menguatkan dan memperkaya wawasan kebudayaan masyarakat Kota Makassar, ia meminta Dinas Kebudayaan menggelar kegiatan budaya selama sebulan menuju Hari Kebudayaan Nasional.
"Saya mau menuju ke 17 Oktober, dari 17 September sampai 17 Oktober, satu bulan penuh kegiatan budaya harus ada di kota Makassar dan menjadi event tetap untuk bisa menghadirkan seluruh masyarakat dan bisa turut hadir menyaksikan," katanya.
Ia menekankan bahwa budaya, khususnya di Kota Makassar, tidak boleh hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi harus menjadi karakter dalam kehidupan masyarakat.
Ia mendorong integrasi nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum pendidikan dasar, memperkenalkan aksara Lontara, corak kain sutra Bugis-Makassar, hingga mendorong setiap kantor pemerintahan dan sekolah menampilkan identitas budaya lokal.

