Logo Header Antaranews Makassar

Pemkot Makassar libatkan perguruan tinggi benahi alur air di kawasan rawan banjir

Kamis, 15 Januari 2026 10:31 WIB
Image Print
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. ANTARA/Muh Hasanuddin

Makassar (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menggandeng pihak perguruan tinggi untukmembenahi alur air di kawasan rawan banjir.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Makassar, Rabu, menyampaikan banjir tahunan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kota Makassar mulai menunjukkan tren penurunan dampak.

"Kami melakukan kajian bersama sejumlah universitas dan berkoordinasi dengan balai yang menangani sungai di Makassar untuk menentukan alur air yang tepat dan mengurangi genangan berulang,” ujarnya.

Dari tiga kecamatan yang selama ini menjadi langganan banjir, kata dia, pada 2026 ini hanya satu wilayah yang sempat melakukan pengungsian dan itu pun dalam waktu singkat.

Ia menyampaikan kondisi tersebut mencerminkan perbaikan dalam penanganan banjir, meski Kota Makassar masih berada dalam periode cuaca ekstrem.

“Dari lima posko pengungsian yang sempat dibuka, saat ini tersisa dua posko dengan sekitar 50 Kepala Keluarga (KK). Ini menandakan situasi sudah jauh lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Munafri.

Menurutnya, faktor banjir di Makassar tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis kota. Wilayah yang rawan genangan umumnya berada di daerah cekungan serta bantaran sungai, sehingga berpotensi menahan air saat curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut diperparah oleh hujan ekstrem yang berdasarkan informasi BMKG diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Februari.

Meski demikian Munafri menekankan penyebab warga mengungsi bukan semata akibat ketinggian air, melainkan karena terganggunya sistem sanitasi rumah tangga.

"Terendamnya fasilitas toilet dan saluran limbah membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu," tuturnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Makassar tengah menyiapkan langkah-langkah teknis berbasis kajian. Kajian diarahkan pada perbaikan sistem aliran air agar tidak terjebak di kawasan permukiman rawan banjir.

Di tengah kondisi cuaca ekstrem itu, Munafri juga meningkatkan status kesiapsiagaan. Ia mengimbau seluruh perangkat daerah terkait, mulai dari BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, hingga Dinas Sosial, disiagakan untuk merespons cepat potensi bencana, termasuk menyiapkan shelter, logistik, dan kebutuhan dasar warga.

Munafri turut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak lanjutan cuaca ekstrem, seperti angin kencang, pohon tumbang, dan gelombang tinggi di wilayah pesisir.

“Keselamatan warga menjadi prioritas. Pemerintah memastikan seluruh sumber daya siap digunakan jika terjadi kondisi darurat,” ucapnya

Munafri berharap upaya pengendalian banjir melalui kajian ilmiah dapat segera menemukan jawaban dalam memperbaiki sistem drainase dan tata kelola air, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi titik rawan banjir tahunan.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026