
DPRD Manado Minta OP Beras di Pemukiman

"Sebaiknya pemerintah berkoordinasi kembali dengan Bulog
Manado (ANTARA Sulsel) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manado, meminta agar operasi pasar (OP) beras dilakukan di pemukiman penduduk, agar menyentuh masyarakat.
"Sebaiknya pemerintah berkoordinasi kembali dengan Bulog dan memilih lokasai OP yang bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin," kata Ketua Komisi B DPRD Manado, Revani Parasan, di Manado, Kamis.
Parasan mengatakan, dengan menggelar OP di wilayah pemukiman atau minimal di kantor lurah dan kecamatan, maka bisa terkontrol dengan baik dan benar-benar dibeli warga.
"Jangan sampai kemudian hanya dibeli oleh pedagang yang mengambil untung dari situasi tersebut, apalagi hari ini dimulai di pasar tradisional," kata Parasan.
Parasan juga minta Pemerintah menyampaikan ke Bulog supaya mempertimbangkan usulan menjual beras langsung kepada warga Manado, bukanya di pasar tradisional seperti yang mulai dilakukan Kamis pagi.
Humas Bulog Sulawesi Utara, Andi Zulkarnain, mengatakan OP tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk menstabilkan harga beras di pasaran yang sudah mengalami kenaikan.
"Berdasarkan pemantauan harga beras di pasaran sudah mengalami kenaikan 20-25 persen dan itu sudah mengakibatkan keresahan di tengah masyarakat," katanya.
Karena itu Andi Zulkarnain mengatakan OP digelar di pasaran namun bisa juga dilakukan langsung kepada warga masyarakat tetapi untuk sekarang dilakukan di dua pasar tradisional Manado yaklni bersehati dan pinasungkulan.
Ia mengatakan lokasi dua pasar tradisional tersebut adalah hasil koordinasi dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara, dan penjualan dilakukan di pasar tradisional di seluruh kabupaten dan kota, untuk menstabilkan harga secara nasional.
Harga beras Bulog yang dijual adalah Rp7.400 perkilogram di pasar Bersehati Manado dimana dalam kemasan lima kg, 10 kg dan 15 kg. B. Situmorang
Pewarta : Joyce Bukarakombang
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
