
Psikolog menilai pembatasan medsos berpengaruh positif bagi anak dan remaja

Makassar (ANTARA) - Kalangan psikolog menilai aturan pembatasan akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang diberlakukan mulai 28 Maret 2026 melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nomor 9 Tahun 2026 dinilai memberi pengaruh positif bagi anak maupun remaja.
"Pembatasan medsos ini dapat berpengaruh positif bagi perkembangan mereka. Saya sempat berdiskusi dengan anak-anak di rumah dan kami beranggapan bahwa akun medsos anak di bawah 16 tahun langsung dinonaktifkan, itu sudah tepat," kata Psikolog Universitas Negeri Makassar (UNM) Haerani Nur di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu.
Pembatasan tersebut merujuk Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 tahun 2026 tentang Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Menurutnya, medsos yang digemari orang dari segala usia, termasuk anak, adalah platfom TikTok dan Youtube. Namun demikian perlu ditelaah lebih lanjut apakah fenomena tersebut terjadi masif di masyarakat.
Tetapi fenomena ini memunculkan pertanyaan apakah anak yang membuat akun medsos sudah sesuai data usianya, sepertinya tidak semua demikian. Karena tidak semua terdata siapa saja yang memilih akun di usia 16 tahun ke bawah.
Oleh karena itu perlu dicek regulasi yang berlaku dan bagaimana mekanisme pemantauannya. Selain itu apakah hanya medsos kebanyakan diakses anak, sehingga perlu dikroscek apa saja sering diakses anak selain medsos agar tujuan membatasi screen time anak menjadi efektif.
Selain dampak negatif yang ditimbulkan, kata Kepala Jurusan Psikologi UNM ini, perlu juga mengecek dampak positif dari penggunaan medsos tersebut bagi anak. Misalnya, beberapa tayangan di Youtube bermanfaat untuk stimulasi perkembangan anak.
"Aktivitas dilakukan anak di TikTok misalnya, dapat menjadi wadah menyalurkan bakat anak (punya akun berjualan). Menurutku, selain pembatasan penggunaan medsos, pendampingan orang tua perlu dilakukan," kata Ketua Forum Komunikasi Orangtua Anak Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Makassar itu.
Hal senada disampaikan psikolog lainnya Andi Dewi Neswaty. Ia menyebut dari perspektif psikologi perkembangan anak dan remaja, arah pembatasan ini bisa dikatakan tepat sebagai langkah preventif.
Sebab, anak dan remaja, ungkap dia, belum sepenuhnya memiliki kapasitas regulasi diri yang matang, baik dalam mengelola emosi, impuls, maupun dalam menyaring informasi sosial yang kompleks seperti di medsos.
Untuk itu pembatasan akan efektif mesti dibarengi dengan peran aktif orang tua dalam membimbing, bukan sekadar melarang. Jika hanya pembatasan tanpa edukasi, ada kemungkinan anak justru mencari cara lain untuk tetap mengakses, tapi tanpa pengawasan.
"Jadi yang ideal adalah kombinasi antara aturan yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan literasi digital di dalam keluarga," tutur Andi Dewi.
Dengan pembatasan ini, lanjut dia, dapat membantu anak mengembangkan kontrol diri dan interaksi sosial yang lebih sehat, sekaligus memperkuat kualitas hubungan dalam keluarga, asalkan dijalankan dengan pendampingan, bukan sekadar larangan.
Dari sisi keluarga juga sangat relevan karena keluarga adalah lingkungan utama yang membentuk nilai dan karakter. Ketika intensitas media sosial berkurang, ada lebih banyak ruang bagi nilai keluarga, seperti cara berkomunikasi, empati, tanggung jawab untuk diinternalisasi oleh anak.
Jadi, bukan hanya identitas remaja yang terbentuk, tetapi juga karakter relasi dalam keluarga. Misalnya, apakah keluarga terbiasa berdialog, saling mendengar, atau justru berjalan sendiri-sendiri dengan gadget masing-masing.
"Dengan kata lain, pembatasan ini bisa menjadi peluang untuk menguatkan dua hal sekaligus yakni untuk identitas anak atau remaja yang lebih positif, dan karakter keluarga yang lebih terkoneksi," tuturnya.
Sebelumnya, pemerintah meminta penyelenggara sistem elektronik atau platform media sosial menonaktifkan akun anak-anak di bawah 16 tahun. Sasarannya, platform YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Thread, X, Bigo Live, serta Roblox.
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
