Logo Header Antaranews Makassar

Potensi Budaya PUS Dipentaskan di Mamuju

Minggu, 9 Agustus 2009 00:24 WIB
Image Print

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Potensi budaya Mandar yang ada di wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS)atau tujuh kerajaan di hulu sungai, akhirnya di pentaskan di Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dalam rangkaian kegiatan Festival Seni Budaya PUS.

Festival diresmikan oleh Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, di gedung Pemuda, Mamuju, Sabtu.

Kegiatan festival seni budaya PUS yang digagas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bina Insan Mandiri Sulbar ini bekerjasama dengan kerukunan keluarga PUS pada tujuh kerajaan di pegunungan Kabupaten Mamasa, meliputi Kerjaan Tabulahan, Aralle, Bambang, Mambi, Rantebulahan, Matangga dan Tabang.

Tokoh pemuda PUS yang juga Ketua Panitia penyelenggara festival seni budaya PUS, Saiful Jihad Eke mengatakan, kegitan festival seni budaya dipentaskan bertujuan untuk memperkenalkan potensi budaya yang ada di wilayah tersebut.

"Kami ingin memperkenalkan kepada publik, khususnya di Sulbar bahwa sesungguhnya budaya Mandar di wilayah PUS menyimpan potensi yang cukup besar," kata Saiful.

Menurutnya, selama ini potensi budaya Mandar yang banyak diketahui publik adalah budaya yang berada di pesisir pada tujuh kerajaan Pitu Baba'na Binanga (PBB) (tujuh kerajaan di muara sungai) yang meliputi kerajaan Binuang, Balanipa, Banggae, Pamboang, Sendana, Tappalang dan Mamuju.

"Pada festival budaya di tingkat nasional di Jakarta, praktis yang ditampilkan adalah budaya Mandar pada kereajaan di wilayah pesisir, tetapi, potensi budaya di PUS juga sangat banyak yang dapat diperkenalkan pada tingkat nasional," ujarnya.

Ia mengatakan, jika berbicara konteks budaya Mandar, maka budaya yang ada di wilayah PUS tidak dapat dipisahkan begitu saja, karena antara PUS dengan Mandar hakekatnya adalah satu.

"Mandar adalah bagian dari kerajaan yang ada pada wilayah PUS," ungkapnya.

Dia menambahkan, keberagaman potensi yang ada di wilayah PUS selama ini ibaratnya sudah hampir punah akibat kurangnya perhatian berbagai pihak, sehingga tokoh pemuda, agama, adat bersepakat untuk kembali menggali khasanah budaya yang ada di wilayah tersebut.

"Kami sangat terinspirasi menggali potensi budaya PUS yang memiliki keunikan tersendiri. Dan saya yakin, jika potensi ini dikembangkan dengan sungguh hati, maka ke depan budaya di Tanah Mandar yang Mala'bi (Berwibawa) akan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di wilayah Sulbar," katanya.

Sekretaris umum LSM Bina Insan Mandiri Sulbar, Abdi Manaf juga berpendapat yang sama.

"Saya yakin momentum ini akan berdaya guna untuk pembangunan di Sulbar melalui pementasan seni budaya PUS," kata Abdi.

Menurutnya, potensi budaya PUS yang terpendam sejak tahun 1950-an ini akan kembali mencuat seiring dengan dilaksanakannya festival budaya yang mendapat tanggapan positif dari pemerintah provinsi Sulbar dan Dinas Parawisata Seni dan Budaya.

"Pemprov sudah memberi sinyal positif agar pagelaran festival seni budaya PUS tetap diagendakan setiap tahun untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda yang ada di wilayah PUS dan Sulbar pada umumnya," ucapnya.

Ia mengaku, generasi muda yang ada di PUS banyak yang tidak mengetahui seperti apa budaya yang ada di daerah tersebut.

"Generasi kita banyak yang tidak memahami budaya yang ada di wilayah PUS. Kondisi itulah yang membuat kami termotivasi untuk menyelenggarakan agenda Festival seni budaya PUS," kata Abdi.
(T.PSO-104/F003)