
Petani cengkih Majene tidak khawatir kekeringan

"Tahun lalu kami merugi akibat kemarau yang berlansung beberapa bulan...
Mamuju (ANTARA Sulbar) - Petani di Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat bergembira karena hujan telah turun dan tanaman cengkih petani tidak lagi terancam kekeringan.
"Tahun lalu kami merugi akibat kemarau yang berlansung beberapa bulan, tetapi tahun ini kami gembira dan bersyukur karena hujan turun dan kemarau tidak mengancam tanaman cengkih kami," kata Hermadi petani di Kecamatan Tammerodo Sendana Kabupaten Majene, Selasa.
Ia mengatakan, sebelumnya petani khawatir tanaman cengkihnya akan kekeringan seperti tahun lalu, namun hujan telah turun petani tak perlu risau lagi.
"Petani tidak takut gagal panen ataupun tanamannya rusak karena kekeringan dan mati dan tidak bisa dipanen, karena kemarau sudah berlalu," katanya
Menurut dia, pada tahun lalu ratusan hektare tanaman cengkeh di Kecamatan Tammerodo Sendana Kabupaten Majene kekeringan dan mati membuat petani pasrah dan kehilangan mata pencaharian.
"Saya yang paling beruntung karena hanya 40 pohon cengkeh kami yang kekeringan dan mati, dan masih tersisa 12 pohon, sementara petani lainnya rugi karena hampir seluruh tanaman cengkihnya mati." katanya.
Menurut dia, bila kemarau berkepanjangan terjadi maka petani akan kehilangan pohon cengkih hingga ratusan pohon, dan mengalami kerugian hingga puluhan juta dan tentu ini akan membuat petani tidak akan mampu meningkatkan kesejahteraannya dari bertanam cengkeh.
Hal senada dikatakan Subair petani cengkih di Kecamatan Tubo Sendana menurutnya pemerintah diminta dapat memberikan bantuan bibit cengkeh sebagai antisipasi kerugian yang dirasakan petani yang rugi akibat kemarau panjang pada tahun lalu.
"Kami harap bantuan bibit untuk petani cengkih di wilayah kami, agar dapat bertanam tahun ini dan meminimalisir kerugian kami alami," katanya.
Pewarta : M Faisal Hanapi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
