Banda Neira, Maluku (ANTARA News) - Wakil Presiden terpilih Boediono meresmikan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Hatta-Syahrir di Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Sabtu.
Peresmian tanpa kata sambutan itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Kampus STIP Hatta-Syahrir yang dipusatkan di lokasi Monumen "Parigi Rante", tempat pembantaian puluhan pejuang dan 40 "Orang Kaya" (gelar kebangsawanan) Banda atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen dari Vereenigre Oostindishe Compagnie (VOC), pada 8 Mei 1621.
Boediono yang didampingi Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu dan tokoh masyarakat Banda Des Alwi, sebelumnya menyaksikan daftar nama-nama 40 tokoh pejuang dan orang kaya Banda yang dibuat monumennya pada lokasi "Parigi Rante".
Des Alwi yang juga sebagai saksi sejarah mengatakan, pada pembantaian tersebut delapan sesepuh pejuang Banda, tubuhnya dipenggal menjadi empat bagian, sedangkan 32 lainnya dipancung kepalanya.
Zaman kolonialisme Belanda di Kepulauan Banda 1602-1621, sedikitnya 6.000 rakyat setempat juga dibunuh, 789 diasingkan ke Jakarta dan 1.700 lainnya melarikan diri ke Banda Ely, Kabupaten Maluku Tenggara dan sejumlah daerah lainnya di Pulau Peram.
Peresmian STIP Hata-Syahrir dan peletakan batu pertama pembangunan kampus tersebut diakhiri dengan doa oleh Kepala Urusan Agama Banda Naira, Mahfud Thalib.
Sebelumnya Rektor STIP Hatta-Syahrir, Hamadi, mengatakan, lembaga pendidikan yang dipimpinnya memiliki 2 program studi, yakni manajemen sumber daya perikanan dan budidaya perikanan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 340 orang, di mana 39 orang di antaranya telah lulus dalam dua tahap wisuda.
Lembaga pendidikan ini dibuka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) tertanggal 10 Juli 2001.
Lembaga pendidikan ini juga membuka Sekolah Tinggi Perikanan dan berencana membuka Sekolah Tinggi pertanian dengan tujuan mendukung pembukaan Universitas Hatta-Syahrir, sebagai bagian dan penghormatan terhadap kepedulian dua tokoh nasional yakni Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir terhadap dunia pendidikan saat diasingkan belanda di Banda Neira 1936-1942.
Boediono bersama istrinya Ny. Herawati dalam kunjungan ke Banda Neira selama dua hari juga mengunjungi rumah pengasingan Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan Cipto Mangunkusumo, istana mini yang menjadi replika Istana Bogor, gereja tua Banda, rumah budaya, agrowisata pala, gunung api, benteng Belgica dan tabur bunga di Teluk Lautaka berkaitan dengan heroisme pejuang perempuan Boy Kerang saat melawan penjajah.
Selain itu, Boediono yang terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden, juga akan dianugerahi gelar adat tertinggi Banda yang biasa disebut Kepala "Oranglima" Utama, serta melakukan penyelaman untuk menyaksikan langsung keindahan alam bawah laut Kepulauan Banda.
(T.L005/A041)

