
Korban Perahu Terbalik Masih Dicari

Pangkep, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Para penumpang Perahu Jolloro (perahu kecil bermesin) yang ditumpangi sekitar puluhan orang warga yang dilaporkan terbalik (8/10) dini hari di sekitar Pulau Poleonro, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi selatan, hingga kini masih dicari.
Camat Liukang Tangayya, Pangkep, Iskandar, S.Sos di Pangkep, Jumat, mengatakan, perahu tersebut terbalik saat warga pulang dari salah satu hajatan yang dilaksanakan di Pulau Poleonro.
Enam orang sudah dilaporkan tewas akibat kecelakaan tersebut, termasuk istri dan anak Kepala Desa (Kades) Sailus, Kecamatan Liukang Tangayya, Mahuseng.
"Berdasarkan informasi dari warga yang sudah melakukan pencarian, sudah ada sekitar enam orang penumpang Perahu Jolloro tersebut yang ditemukan dalam keadaan tewas," jelasnya.
Iskandar mengungkapkan, pihaknya belum dapat informasi jelas tentang berapa jumlah sebenarnya warga yang menjadi penumpang di Perahu Jolloro tersebebut, sebab komunikasi ke pulau itu agak sulit.
"Kami belum mengetahui secara pasti berapa jumlah penumpang perahu tersebut, namun informasi yang saya peroleh dari Babinsa setempat menyebutkan, ada sekitar 20 orang warga yang ikut dalam Perahu Jolloro tersebut," Ungkap Iskandar.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Iskandar, warga yang ikut menjadi penumpang di Perahu jolloro tersebut berasal dari sejumlah wilayah, beberapa diantaranya adalah merupakan penduduk Desa Sailus, Kecamatan liukang Tangayya, Poleonro bahkan beberapa diantaranya dilaporkan merupakan penduduk Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggra Barat (NTB).
Informasi yang jelas yang diperoleh pada saat terbaliknya perahu Jolloro tersebut sekitar pukul 03.00 Wita, saat itu perahu menuju Pulau Sailus dari Pulau Poleonro, Pangkep. Jarak antara kedua pulau tersebut sekitar tiga mil dengan arus yang cukup deras.
Dia memperkirakan perahu tersebut tenggelam akibat cuaca buruk, sebab sejak Rabu malam (7/10) kondisi cuaca di sekitar Kabupaten Pangkep memang dalam kondisi mendung dan angin bertiup cukup kencang.
"Jadi memang saat musim pancaroba, kondisi perairan di sekitar Pulau Poleonro ombaknya cukup tinggi, apalagi biasanya warga yang melakukan perjalanan laut dengan menggunakan Perahu Jolloro terkadang penumpangnya hingga sampai ketenda perahu," katanya.
Iskandar menambahkan, hingga saat ini belum ada tim Search And Recue (SAR) baik dari pihak Badan SAR Nasional (Basarnas) maupun dari TNI/Polri yang membantu melakukan pencarian terhadap para warga yang hingga kini masih dilaporkan hilang dalam peristiwa terbaliknya Perahu Jolloro tersebut, hanya warga sekitar secara spontanitas yang melakukan pencarian terhadap korban.
(T.PSO-098/F003)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
