Lokasi pembangunan berada di Desa Capar berdasarkan rekomendasi kajian geologi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral guna memastikan keamanan area hunian dari potensi longsoran lanjutan. Area proyek memiliki luas sekitar 47.000 m² dan dirancang menampung 456 kepala keluarga atau 1.824 jiwa.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa pembangunan huntara dilakukan secara cepat agar masyarakat terdampak segera mendapatkan tempat tinggal yang aman dan nyaman. “Huntara PU biasanya dikerjakan sekitar tiga mingguan. Harapannya sebelum Lebaran sudah bisa ditempati. Lengkap dengan fasilitas umum, kamar mandi, dan sarana pendukung lainnya. Kurang lebih seperti yang pernah kita bangun di Sumatera Utara dan Aceh, lengkap dengan tempat tidur, lemari, dan kipas angin,” jelas Menteri PU, Dody Hanggodo.
Huntara menggunakan sistem struktur baja modular MOLI yang memungkinkan proses pemasangan tanpa alat berat, sehingga mempercepat waktu konstruksi sekaligus meminimalkan dampak terhadap kondisi tanah. Setiap blok bangunan memiliki luas 288 m² dengan konfigurasi 16 modul yang dapat menampung 12 keluarga (48 orang). Fasilitas sanitasi disediakan dengan rasio 1 unit untuk 8 penghuni, terdiri dari total 228 toilet dan 228 kamar mandi.
Distribusi hunian terbagi dalam 11 zona (A–K) dengan total 38 blok bangunan. Selain unit hunian, fasilitas pendukung seperti mushola dan area terbuka juga disiapkan untuk menunjang kebutuhan sosial dan aktivitas warga selama masa penanganan darurat.
Dari sisi utilitas, sistem air bersih disuplai melalui jaringan air dan sumur, pengolahan air kotor menggunakan instalasi biotech berkapasitas 5 m³ per blok, sedangkan air bekas dialirkan melalui saluran drainase. Pasokan listrik untuk kawasan huntara terhubung dengan jaringan PLN.
Untuk menjaga stabilitas lahan, pekerjaan penataan kontur berupa undakan atau terasering menjadi bagian penting dalam tahap persiapan area. Hingga dokumentasi per 17 Februari 2026, proyek didukung sumber daya alat berat antara lain 7 unit excavator, 3 unit bulldozer, dan 1 unit vibro.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito (BW), menyampaikan bahwa proyek huntara ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi wujud hadirnya Pemerintah untuk menyediakan hunian bermartabat kepada masyarakat terdampak bencana. "Inisiatif ini selaras dengan semangat Asta Cita pemerintah, khususnya dalam penguatan ketahanan masyarakat, pemerataan pembangunan, dan perlindungan warga dalam situasi darurat. WIKA berkomitmen menghadirkan solusi konstruksi cepat, aman, dan berkelanjutan untuk mendukung pemulihan kehidupan masyarakat,” ujar Agung BW.
Fasilitas ini direncanakan dapat segera dimanfaatkan masyarakat terdampak sambil menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian permanen.
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2026
