Makassar (ANTARA Sulsel) - Sumber daya manusia (SDM) yang handal dibutuhkan untuk menghadapi pasar bebas ASEAN - China (ASEAN China Free Trade Area/ACFTA), agar kondisi ekonomi lokal dan dalam negeri tidak terpuruk.
"Salah satu kunci untuk menghadapi ACFTA adalah menyiapkan SDM yang handal di berbagai sektor," kata pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Prof DR Hamid Paddu di Makassar, Senin.
Menurut dia, untuk Sulsel yang ekonominya berbasis pada sektor pertanian, untuk beberapa tahun ke depan belum akan merasakan dampak dari ACFTA yang mulai diberlakukan 1 Januari 2010, namun untuk daerah yang memiliki banyak industri garmen seperti Bandung tentu akan merasakan dampak masuknya barang impor, terutama dari China.
Kendati demikian, lanjutnya, SDM yang handal di tingkat lokal harus disiapkan, untuk dapat menjawab tantangan meningkat nilai jual dari produksi pertanian Sulsel melalui pengaplikasian program petik, olah dan jual.
"Selama ini, kakao kita yang diekspor masih lebih banyak dalam bentuk bahan mentah, sehingga harganya tentu tidak setinggi dengan yang sudah diolah," katanya.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel Zulkarnain mengatakan, tenaga SDM yang ada khususnya lulusan perguruan tinggi bukan tenaga siap pakai. Sehingga lulusan Strata satu (S1) yang sudah mencapai 54 ribu alumni dari rata-rata 2.000 orang diwisuda per tahun, menjadi potensi pengangguran.
Dia mengatakan, saat ini penggangguran di Sulsel yang berpendidikan S1 diperkirakan mencapai 100 ribu orang dan S2 sebanyak tujuh ribu orang.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, sudah saat menggenjot para sarjana itu menjadi wiraswastawan untuk mengatasi masalah pengangguran dan jangan bergantung menjadi pegawai negeri sipil (PNS) saja yang formasinya sangat sedikit dibandingkan angkatan kerja.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dia mengatakan, peran semua pihak, termasuk pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan harus mendorong jumlah wirausahawan yang lebih besar, seperti halnya negara-negara maju yang jumlah pengusahanya sudah 23 persen dari jumlah penduduknya.
Sebagai gambaran, Singapura saat ini memiliki pengusaha diatas lima persen dari jumlah penduduknya. Sementara Indonesia baru sekitar 0,18 persen pengusaha dari jumlah penduduk.
(T.S036/H-CS)
SDM Handal Dibutuhkan Hadapi Pasar Bebas
Senin, 11 Januari 2010 4:17 WIB
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Perkuat keterampilan, PBK Batch 4 Tahun 2026 resmi dibuka Bupati Jeneponto
10 September 2026 11:37 WIB