Kekeringan sebabkan berbagai gangguan kesehatan
Kamis, 22 Agustus 2019 9:21 WIB
Pemeriksaan kesehatan
Makassar (ANTARA) - Lembaga filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang telah berkeliling mendistribusikan air bersih, banyak menemukan warga mengalami gangguan kesehatan disebabkan oleh kekeringan.
"Kami sudah berkeliling daerah di Indonesia dan di banyak tempat warganya mengalami gangguan kesehatan karena dampak dari kemarau ini," ujar Kepala Tim Medis ACT dr Rizal Alimin di Makassar, Kamis.
Ia menambahkan kemarau panjang dapat memicu sejumlah penyakit diantaranya, Hepatitis A, tifus, inspeksi saluran pencernaan akut (ISPA), hingga stunting pada anak adalah penyakit yang kerap muncul.
Dalam pemantauan hari tanpa hujan (HTH) per 10 Agustus 2019, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memetakan sebagian besar wilayah di Indonesia itu tidak diguyur hujan dan paling tandus di daerah Pulau Jawa.
Ia menjelaskan di daerah Pulau Jawa hujan sudah tidak turun setidaknya selama 60 hari terakhir. Selain Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga ditandai sebagai zona merah, yakni wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.
Dokter Rizal Alimin menyebutkan, bukan hanya musim hujan yang dapat membawa berbagai penyakit, kemarau yang terjadi tahun 2019 ini juga sangat memungkinkan menghadirkan penyakit bagi masyarakat.
"Apalagi jika kemarau terjadi secara ekstrem dalam waktu yang cukup panjang, berbagai penyakit memungkinkan menjangkiti warga," katanya.
Selain keterbatasan air bersih, berbagai dampak juga timbul akibat kemarau. Di bidang ekonomi, warga harus merogoh kocek lebih untuk membeli air. Sedangkan di kesehatan, kekeringan berdampak pada munculnya sejumlah penyakit.
Dia pun menjelaskan kebutuhan air setiap individu sangat penting. Sekitar tiga persen tubuh manusia terdiri dari air. Air pun dibutuhkan tubuh untuk tetap menjaga kesehatan organ, terutama ginjal.
Pengaruh kemarau terhadap kesehatan memang tidak dapat langsung dirasakan. Menurut dr Rizal, hal itu disebabkan berkurangnya konsumsi dan penggunaan air dalam secara perlahan.
Hepatitis A dan tipes misalnya, penyakit ini dapat timbul akibat berkurangnya volume air. Ketika kemarau datang, sungai-sungai serta sumur mengalami penurunan volume yang membuat pelarutan kotoran yang masuk ke air menjadi lebih sulit.
Kemarau juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan. Saat musim kemarau, debu lebih banyak dan udara lebih berpolusi.
"Ketika kemarau, orang lebih mudah terpapar ISPA karena debu lebih banyak beterbangan," ucapnya.
"Kami sudah berkeliling daerah di Indonesia dan di banyak tempat warganya mengalami gangguan kesehatan karena dampak dari kemarau ini," ujar Kepala Tim Medis ACT dr Rizal Alimin di Makassar, Kamis.
Ia menambahkan kemarau panjang dapat memicu sejumlah penyakit diantaranya, Hepatitis A, tifus, inspeksi saluran pencernaan akut (ISPA), hingga stunting pada anak adalah penyakit yang kerap muncul.
Dalam pemantauan hari tanpa hujan (HTH) per 10 Agustus 2019, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memetakan sebagian besar wilayah di Indonesia itu tidak diguyur hujan dan paling tandus di daerah Pulau Jawa.
Ia menjelaskan di daerah Pulau Jawa hujan sudah tidak turun setidaknya selama 60 hari terakhir. Selain Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur juga ditandai sebagai zona merah, yakni wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.
Dokter Rizal Alimin menyebutkan, bukan hanya musim hujan yang dapat membawa berbagai penyakit, kemarau yang terjadi tahun 2019 ini juga sangat memungkinkan menghadirkan penyakit bagi masyarakat.
"Apalagi jika kemarau terjadi secara ekstrem dalam waktu yang cukup panjang, berbagai penyakit memungkinkan menjangkiti warga," katanya.
Selain keterbatasan air bersih, berbagai dampak juga timbul akibat kemarau. Di bidang ekonomi, warga harus merogoh kocek lebih untuk membeli air. Sedangkan di kesehatan, kekeringan berdampak pada munculnya sejumlah penyakit.
Dia pun menjelaskan kebutuhan air setiap individu sangat penting. Sekitar tiga persen tubuh manusia terdiri dari air. Air pun dibutuhkan tubuh untuk tetap menjaga kesehatan organ, terutama ginjal.
Pengaruh kemarau terhadap kesehatan memang tidak dapat langsung dirasakan. Menurut dr Rizal, hal itu disebabkan berkurangnya konsumsi dan penggunaan air dalam secara perlahan.
Hepatitis A dan tipes misalnya, penyakit ini dapat timbul akibat berkurangnya volume air. Ketika kemarau datang, sungai-sungai serta sumur mengalami penurunan volume yang membuat pelarutan kotoran yang masuk ke air menjadi lebih sulit.
Kemarau juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan. Saat musim kemarau, debu lebih banyak dan udara lebih berpolusi.
"Ketika kemarau, orang lebih mudah terpapar ISPA karena debu lebih banyak beterbangan," ucapnya.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPBD Sulsel fokus tingkatkan kesiapsiagaan hadapi bencana kekeringan
28 November 2024 16:02 WIB, 2024
TPHP Sulbar tangani dampak El Nino pada tanaman padi di Kabupaten Mamasa
03 October 2024 19:13 WIB, 2024
Pjs Wali Kota dan Dandim Makassar berkolaborasi antisipasi dampak kekeringan
27 September 2024 16:44 WIB, 2024
Pemkot Makassar siapkan 5 juta liter air setiap hari untuk warga terdampak kekeringan
25 September 2024 17:05 WIB, 2024
BMKG memperingatkan potensi penurunan curah hujan tanpa mitigasi iklim
25 September 2024 14:50 WIB, 2024
Dinas TPHP Sulbar melakukan penanganan dampak El Nino di Polewali Mandar
22 September 2024 18:42 WIB, 2024
BMKG : Sejumlah daerah di Indonesia kekeringan setelah nyaris tiga bulan tanpa hujan
24 July 2024 7:41 WIB, 2024
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Bantuan emergensi kesehatan berbasis aplikasi hadir di Sulawesi Selatan
17 January 2020 6:16 WIB, 2020
Karyawan Sharp Indonesia laksanakan trauma healing untuk korban banjir
09 January 2020 5:37 WIB, 2020