Kementerian ESDM mendata kronologi letusan Gunung Merapi
Selasa, 3 Maret 2020 13:58 WIB
Wisatawan melihat letusan Gunung Merapi dari Bulit Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (3/3/2020). Gunung Merapi meletus pada pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom 6.000 meter, status waspada (level II). ANTARA FOTO/Rizky Tulus/hnd/pd.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendata kronologi letusan Gunung Merapi yang kembali terjadi pada 3 Maret 2020.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Selasa, berikut data mengenai letusan Gunung Merapi, berselang 19 hari setelah letusan 13 Februari 2020 dan hari ini tanggal 3 Maret 2020 pukul 05.22 terjadi letusan kembali dengan tinggi kolom 6 km.
Letusan terekam di seismograf dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik. Awan panas teramati sejauh kurang dari 2 km di sektor selatan tenggara. VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) diterbitkan dengan kode warna Merah. Angin saat kejadian letusan mengarah ke utara timur.
Hujan abu dilaporkan terjadi dalam radius 10 km dari puncak terutama pada sektor utara seperti di wilayah kecamatan Musuk dan Cepogo Boyolali. Hujan abu bercampur pasir dilaporkan terjadi di wilayah Desa Mriyan, Boyolali, yang berjarak sekitar 3 km dari puncak Gunung Merapi.
Seperti pada letusan sebelumnya letusan hari ini tidak didahului ursor yang jelas. Seismisitas pada tanggal 2 Maret 2020 terdiri dari gempa VTA 1 kali, MP 8 kali, LF 2 kali, dan DG 1 kali. Demikian juga deformasi juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan tidak terbentuk tekanan yang cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik.
Rangkaian letusan sejak November 2019 hingga saat ini serta aktivitas kegempaan VTA menjadi indikasi bahwa saat ini Gunung Merapi berada pada fase intrusi magma menuju permukaan Merapi 2018-2020 yang merupakan fase ke 7 dari kronologi aktivitas erupsi Gunung Merapi.
Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Ancaman bahaya letusan ini berupa awan panas yang bersumber dari bongkaran material kubah lava dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan kurang dari 3 km berdasarkan volume kubah yang sebesar 396.000 m berdasarkan data drone 19 November 2019.
Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.
Untuk informasi resmi aktivitas Gunung Merapi, masyarakat dapat mengakses informasi melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514192.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara di Jakarta, Selasa, berikut data mengenai letusan Gunung Merapi, berselang 19 hari setelah letusan 13 Februari 2020 dan hari ini tanggal 3 Maret 2020 pukul 05.22 terjadi letusan kembali dengan tinggi kolom 6 km.
Letusan terekam di seismograf dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik. Awan panas teramati sejauh kurang dari 2 km di sektor selatan tenggara. VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) diterbitkan dengan kode warna Merah. Angin saat kejadian letusan mengarah ke utara timur.
Hujan abu dilaporkan terjadi dalam radius 10 km dari puncak terutama pada sektor utara seperti di wilayah kecamatan Musuk dan Cepogo Boyolali. Hujan abu bercampur pasir dilaporkan terjadi di wilayah Desa Mriyan, Boyolali, yang berjarak sekitar 3 km dari puncak Gunung Merapi.
Seperti pada letusan sebelumnya letusan hari ini tidak didahului ursor yang jelas. Seismisitas pada tanggal 2 Maret 2020 terdiri dari gempa VTA 1 kali, MP 8 kali, LF 2 kali, dan DG 1 kali. Demikian juga deformasi juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan tidak terbentuk tekanan yang cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik.
Rangkaian letusan sejak November 2019 hingga saat ini serta aktivitas kegempaan VTA menjadi indikasi bahwa saat ini Gunung Merapi berada pada fase intrusi magma menuju permukaan Merapi 2018-2020 yang merupakan fase ke 7 dari kronologi aktivitas erupsi Gunung Merapi.
Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Ancaman bahaya letusan ini berupa awan panas yang bersumber dari bongkaran material kubah lava dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan kurang dari 3 km berdasarkan volume kubah yang sebesar 396.000 m berdasarkan data drone 19 November 2019.
Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.
Untuk informasi resmi aktivitas Gunung Merapi, masyarakat dapat mengakses informasi melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514192.
Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gunung Marapi di Sumbar meletus dan berstatus waspada radius aman tiga kilometer
08 September 2025 10:31 WIB
Polisi: Tidak ada korban akibat balon meletus di malam tahun baru di Bundaran HI
01 January 2025 16:53 WIB, 2025
Gunung Semeru erupsi tiga kali dengan tinggi letusan hingga 1 km pada Rabu
27 November 2024 7:29 WIB, 2024
Delapan orang meninggal dunia akibat erupsi gunung Lewotobi Laki-laki di Flores NTT
04 November 2024 8:53 WIB, 2024
Gunung Ibu di Pulau Halmahera melontarkan lagi abu vulkanik setinggi lima kilometer
16 May 2024 12:52 WIB, 2024
Letusan Gunung Ibu menciptakan badai petir vulkanik pada Sabtu dini hari
11 May 2024 11:54 WIB, 2024