Kluster perkantoran dan keluarga dominasi kasus COVID-19 di Makassar
Senin, 23 November 2020 16:48 WIB
Ilustrasi - Satpol PP Makassar gencar melaksanakan operasi yustisi di tempat-tempat keramaian, termasuk Anjungan Pantai Losari Makassar. ANTARA Foto/HO-Kasatpol PP Makassar
Makassar (ANTARA) - Kluster perkantoran dan keluarga mendominasi peningkatan kasus COVID-19 di Sulawesi Selatan, khususnya pada Kota Makassar.
Pakar Epideomologi FKM Universitas Hasanuddin Prof Ridwan Amiruddin mengemukakan tracing (penelusuran) dan testing berbasis institusi harus digenjot untuk menjangkau orang-orang yang berpotensi tertular melalui pendekatan yang masif.
"Menurut Pemkot, (testing dan tracing di kantor) sudah berlangsung. Tapi sekarang masuk ke fase kedua untuk lebih menggencarkan tracing," ujarnya di Makassar, Senin.
Prof Ridwan menyebutkan bahwa masih ada sekitar 7000 yang suspek COVID-19 di Kota Makassar, karena itu sangat penting melakukan pendekatan langsung pada institusi.
"Kalau ada ASN yang terinfeksi maka keluarganya akan disisir, karena kalau terpapar di institusinya pasti dia bawa ke rumahnya," ujarnya.
Selain kluster tersebut, Ketua Tim Konsultan Penanganan COVID-19 Sulsel ini juga khawatir terhadap kluster libur akhir tahun dan menjelang pergantian tahun.
Saat ini, kata dia, kluster libur panjang pada Oktober lalu sudah terlihat. Akibatnya angka positivity rate yang sebelumnya di angka 3 persen, sekarang naik menjadi 11 persen.
"Satu pekan terakhir ada kecenderungan meningkat sedikit, meski tidak terlalu signifikan. Itu akumulasi dari liburan yang panjang, akumulasi kluster keluarga, dan kantor," katanya.
Pakar Epideomologi FKM Universitas Hasanuddin Prof Ridwan Amiruddin mengemukakan tracing (penelusuran) dan testing berbasis institusi harus digenjot untuk menjangkau orang-orang yang berpotensi tertular melalui pendekatan yang masif.
"Menurut Pemkot, (testing dan tracing di kantor) sudah berlangsung. Tapi sekarang masuk ke fase kedua untuk lebih menggencarkan tracing," ujarnya di Makassar, Senin.
Prof Ridwan menyebutkan bahwa masih ada sekitar 7000 yang suspek COVID-19 di Kota Makassar, karena itu sangat penting melakukan pendekatan langsung pada institusi.
"Kalau ada ASN yang terinfeksi maka keluarganya akan disisir, karena kalau terpapar di institusinya pasti dia bawa ke rumahnya," ujarnya.
Selain kluster tersebut, Ketua Tim Konsultan Penanganan COVID-19 Sulsel ini juga khawatir terhadap kluster libur akhir tahun dan menjelang pergantian tahun.
Saat ini, kata dia, kluster libur panjang pada Oktober lalu sudah terlihat. Akibatnya angka positivity rate yang sebelumnya di angka 3 persen, sekarang naik menjadi 11 persen.
"Satu pekan terakhir ada kecenderungan meningkat sedikit, meski tidak terlalu signifikan. Itu akumulasi dari liburan yang panjang, akumulasi kluster keluarga, dan kantor," katanya.
Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
JPU Kejati Sulsel nyatakan pikir-pikir untuk banding vonis Bansos COVID-19
01 October 2025 18:00 WIB
Taksi online minta keputusan gubernur Sulsel soal tarif ASK ditinjau ulang
12 February 2025 20:08 WIB, 2025
Kemenkes akan menyediakan fasilitas rontgen gratis di 514 kabupaten
16 December 2024 21:03 WIB, 2024
KPK panggil pimpinan perusahaan terkait dugaan korupsi bansos presiden
08 October 2024 15:08 WIB, 2024
Raksasa farmasi AstraZeneca tarik peredaran vaksin COVID-19 di seluruh dunia
09 May 2024 6:42 WIB, 2024
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemkot Makassar imbau spirit perjuangan Gaza jadi inspirasi ASN berkinerja
15 February 2026 12:48 WIB
Kodaeral VI bersihkan pantai Kepulauan Selayar dukung program Infonesia ASRI
14 February 2026 5:15 WIB
Wali Kota Makassar: Pembangunan jembatan di Romang Tanganyya agar siswa tidak naik sampan
13 February 2026 20:35 WIB