Prancis, Jerman, Inggris kecam Iran terkait produksi logam uranium
Sabtu, 13 Februari 2021 9:19 WIB
Sebuah bangunan yang rusak setelah kebakaran di Fasilitas Nuklir Natanz Iran, di Isfahan, Iran, 2 Juli 2020. ANTARA/REUTERS/Atomic Energy Organization of Iran/WANA/aa.
Paris (ANTARA) - Prancis, Jerman, dan Inggris pada Jumat menyalahkan keputusan Iran untuk memproduksi logam uranium, yang mereka sebut melanggar komitmen yang dibuat oleh Teheran kepada komunitas internasional.
Pengawas nuklir PBB mengatakan minggu ini bahwa Iran telah menindaklanjuti rencananya untuk membuat logam uranium, yang menurut Teheran akan digunakan untuk membuat bahan bakar untuk reaktor penelitian tetapi juga dapat digunakan dalam senjata nuklir.
Langkah tersebut merupakan pelanggaran terbaru Iran atas kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara besar dunia. Teheran memulai pelanggaran bertahap terhadap pakta tersebut, yang juga dikenal dengan akronim JCPoA, setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.
"Kami sangat mendesak Iran untuk menghentikan kegiatan ini tanpa penundaan dan tidak mengambil langkah baru yang tidak patuh pada program nuklirnya. Dalam meningkatkan ketidakpatuhannya, Iran merusak kesempatan untuk diplomasi baru untuk sepenuhnya mewujudkan tujuan JCPOA “ kata tiga negara Eropa itu, yang juga disebut sebagai E3.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menolak pernyataan E3, mengatakan posisi Iran dalam melanggar pakta itu sejalan dengan paragraf 36 dari kesepakatan yang mengatur tindakan yang dapat diambil satu pihak jika pihak ini yakin bahwa pihak lain tidak memenuhi kewajiban.
"Apakah mitra E3 kami pernah membaca paragraf 36 dari JCPOA & banyak surat Iran atas dasar itu ?," kata Zarif di Twitter.
"Dengan logika apa tanggung jawab IRAN untuk menghentikan langkah-langkah perbaikan yang dilakukan setahun penuh setelah AS menarik diri dari dan terus melanggar JCPOA? Apa yang telah E3 lakukan untuk memenuhi tugas mereka?," katanya.
Sumber: Reuters
Pengawas nuklir PBB mengatakan minggu ini bahwa Iran telah menindaklanjuti rencananya untuk membuat logam uranium, yang menurut Teheran akan digunakan untuk membuat bahan bakar untuk reaktor penelitian tetapi juga dapat digunakan dalam senjata nuklir.
Langkah tersebut merupakan pelanggaran terbaru Iran atas kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara besar dunia. Teheran memulai pelanggaran bertahap terhadap pakta tersebut, yang juga dikenal dengan akronim JCPoA, setelah Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.
"Kami sangat mendesak Iran untuk menghentikan kegiatan ini tanpa penundaan dan tidak mengambil langkah baru yang tidak patuh pada program nuklirnya. Dalam meningkatkan ketidakpatuhannya, Iran merusak kesempatan untuk diplomasi baru untuk sepenuhnya mewujudkan tujuan JCPOA “ kata tiga negara Eropa itu, yang juga disebut sebagai E3.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menolak pernyataan E3, mengatakan posisi Iran dalam melanggar pakta itu sejalan dengan paragraf 36 dari kesepakatan yang mengatur tindakan yang dapat diambil satu pihak jika pihak ini yakin bahwa pihak lain tidak memenuhi kewajiban.
"Apakah mitra E3 kami pernah membaca paragraf 36 dari JCPOA & banyak surat Iran atas dasar itu ?," kata Zarif di Twitter.
"Dengan logika apa tanggung jawab IRAN untuk menghentikan langkah-langkah perbaikan yang dilakukan setahun penuh setelah AS menarik diri dari dan terus melanggar JCPOA? Apa yang telah E3 lakukan untuk memenuhi tugas mereka?," katanya.
Sumber: Reuters
Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulbar pastikan pengelolaan LTJ di Mamuju selaras dengan pelestarian lingkungan
22 July 2025 12:53 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Trump tambah kapal induk ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran gagal
11 February 2026 10:51 WIB
Partai LDP pimpinan PM Sanae Takaichi menang pemilu Jepang, kebijakan China tidak berubah
10 February 2026 10:29 WIB