Beijing temukan kasus pneumonia antraks mematikan
Selasa, 10 Agustus 2021 10:05 WIB
Ilustrasi - Petugas menunjukkan bakteri antraks yang memapar kulit warga (Destyan Sujarwoko)
Beijing (ANTARA) - Otoritas kesehatan di Kota Beijing, China, menemukan kasus pneumonia antraks mematikan pada seorang warga Chengde, Provinsi Hebei.
Seorang pasien tersebut dilarikan ke rumah sakit di Beijing dengan menggunakan ambulans empat hari setelah menunjukkan beberapa gejala antraks, demikian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Beijing kepada pers, Senin (9/8).
Pasien tersebut memiliki riwayat dekat dengan sapi dan domba serta produk turunannya.
Antraks merupakan virus yang sangat mematikan jika penderitanya tidak dirawat dengan baik.
Bacillus anthracis, patogen penyebab antraks, dikembangkan menjadi senjata biokimia dan telah digunakan pada abad ke-20, demikian media China, Selasa.
Menurut CDC, antraks lazim di antara sapi dan domba. Manusia biasanya terinfeksi setelah bersentuhan dengan hewan yang sakit atau produk yang terkontaminasi virus tersebut.
Biasanya, 95 persen dari kasus yang dilaporkan, penderitanya mengalami infeksi pada kulit yang dapat menyebabkan lecet dan nekrosis.
Yang paling berbahaya dari pneumonia antraks, ketika seorang pasien menghirup debu yang mengandung bacillus anthracis.
Seseorang bisa terkena antraks usus setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, seperti daging, dan akan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare.
Antraks dapat ditularkan langsung antarmanusia tetapi penularannya tidak secepat flu atau COVID-19.
Penggunan antibiotik merupakan pengobatan yang efektif.
Seorang pasien tersebut dilarikan ke rumah sakit di Beijing dengan menggunakan ambulans empat hari setelah menunjukkan beberapa gejala antraks, demikian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Beijing kepada pers, Senin (9/8).
Pasien tersebut memiliki riwayat dekat dengan sapi dan domba serta produk turunannya.
Antraks merupakan virus yang sangat mematikan jika penderitanya tidak dirawat dengan baik.
Bacillus anthracis, patogen penyebab antraks, dikembangkan menjadi senjata biokimia dan telah digunakan pada abad ke-20, demikian media China, Selasa.
Menurut CDC, antraks lazim di antara sapi dan domba. Manusia biasanya terinfeksi setelah bersentuhan dengan hewan yang sakit atau produk yang terkontaminasi virus tersebut.
Biasanya, 95 persen dari kasus yang dilaporkan, penderitanya mengalami infeksi pada kulit yang dapat menyebabkan lecet dan nekrosis.
Yang paling berbahaya dari pneumonia antraks, ketika seorang pasien menghirup debu yang mengandung bacillus anthracis.
Seseorang bisa terkena antraks usus setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, seperti daging, dan akan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare.
Antraks dapat ditularkan langsung antarmanusia tetapi penularannya tidak secepat flu atau COVID-19.
Penggunan antibiotik merupakan pengobatan yang efektif.
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gunung Kidul vaksin 11.616 ekor ternak yang terpapar antraks di Gunung Kidul
21 January 2020 7:54 WIB, 2020
Pakar Mikrobiologi UGM menduga spora antraks nyaman tumbuh di tanah kapur
18 January 2020 15:20 WIB, 2020
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Trump tambah kapal induk ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran gagal
11 February 2026 10:51 WIB
Partai LDP pimpinan PM Sanae Takaichi menang pemilu Jepang, kebijakan China tidak berubah
10 February 2026 10:29 WIB