Mamuju (ANTARA News) - Pendapatan masyarakat di Provinsi Sulawesi Barat masih di bawah standar bank dunia sehingga pemerintah di Sulbar masih butuh meningkatkan kinerja pembangunan ekonominya lima tahun mendatang.

Direktur Program Yayasan Mitra Bangsa (Yasmib) Sulbar, Rosmiati di Mamuju, Kamis, pendapatan perkapita masyarakat Sulbar sekitar Rp1.636,- per hari pada tahun 2011.

Ia menjelaskan, jika pendapatan perkapita masyarakat Sulbar itu, dihitung berdasarkan perbandingan nilai pendapatan APBD Provinsi Sulbar sekitar Rp691 miliar pada tahun 2011, dengan jumlah penduduk Sulbar 1.158.336 orang berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) Sulbar.

Menurut dia, pendapatan masyarakat di Sulbar itu dianggap terlalu rendah jika dibandingkan dengan nilai standar pendapatan masyarakat dunia yang ditetapkan bank dunia sebesar satu dolar AS per hari atau sekitar Rp10.000.

"Rendahnya pendapatan masyarakat Sulbar itu akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang juga akan rendah dan masyarakat akan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga masyarakat Sulbar dikategorikan masyarakat miskin," katanya.

Oleh karena itu, ia meminta, pemerintah di Sulbar mesti meningkatkan lagi pendapatan masyarakatnya agar lebih dapat meningkat setiap tahun dan agar kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

"Pendapatan pada APBD Provinsi Sulbar harus lebih ditingkatkan lagi, agar dapat mencukupi kebutuhan belanja untuk masyarakat, alokasi anggaran untuk sektor yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi juga harus dialokasikan lebih besar, agar pendapatan perhari masyarakat dapat meningkat," katanya.

Menurut dia, sebagai Provinsi yang baru terbentuk di Indonesia sejak tahun 2004, masih dianggap wajar jika pendapatan perkapita masyarakat Sulbar masih rendah, tetapi bukan berarti pemerintah tidak harus meningkatkan kinerjanya dalam membangun ekonomi.

Sementara Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh mengakui jika masyarakat di Sulbar masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, khususnya yang berada di wilayah pesisir dan daerah terpencil sehingga memang masih butuh perhatian pemerintah.

"Meskipun indeks pertumbuhan ekonomi Sulbar tertinggi di Indonesia mencapai sekitar 15,1 persen tahun 2010, tetapi angka masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan juga masih banyak karena rendahnya pendapatannya, ini memang mesti menjadi perhatian pemerintah," ujarnya.

Menurut dia, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Sulbar, pemerintah telah menjalankan empat stront point pembangunan, diantaranya percepatan pembangunan, peningkatan infrastruktur, revitalisasi pertanian, serta percepatan pengentasan kemiskinan dan peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan.

"Strong point pembangunan itu diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Sulbar melalui peningakatan pendapatannya agar lebih sejahtera," katanya. (T.KR-MFH/F003)