Logo Header Antaranews Makassar

Pemprov Sulbar perkuat K3 bagi pekerja perempuan di Majene

Kamis, 26 Februari 2026 20:15 WIB
Image Print
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulbar dr Nursyamsi Rahim. ANTARA/HO-Diskominfo Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat (Sulbar) melaksanakan bimbingan evaluasi dan monitoring pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pekerja perempuan di wilayah setempat guna mewujudkan iklim kerja yang inklusif.

"Bimbingan evaluasi dan monitoring pembinaan K3 pekerja perempuan ini sebagai upaya pencegahan stunting di Kabupaten Majene," kata Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulbar dr Nursyamsi Rahim, di Mamuju, Kamis.

Kegiatan itu kata Nursyamsi, dilaksanakan oleh Tim Kerja Promosi Kesehatan, Kesehatan Komunitas dan Kesehatan Rentan Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Sulbar.

Pembinaan K3 Pekerja Perempuan menyasar pekerja perempuan formal maupun informal/UMKM melalui kelompok pekerja perempuan di Kabupaten Majene.

"Program ini bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pekerja perempuan sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting melalui pendekatan kesehatan kerja," ujar Nursyamsi.

Nursyamsi menyatakan tujuan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pekerja perempuan tentang pentingnya penerapan prinsip K3, dan mendorong prilaku kerja yang aman dan ergonomis untuk mencegah kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan jangka panjang.

Kemudian, melindungi kesehatan reproduksi serta status gizi pekerja perempuan sebagai bagian dari pencegahan stunting serta mendukung percepatan penurunan stunting melalui penguatan sektor kesehatan kerja dan pemberdayaan perempuan.

Nursyamsi menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui intervensi gizi, tetapi juga melalui perlindungan kesehatan perempuan usia produktif, termasuk di lingkungan kerja.

Kegiatan diawali dengan kunjungan dan koordinasi di Puskesmas Totoli Kabupaten Majene.

Pada kesempatan tersebut, Darwis selaku pemegang Program Kesehatan Komunitas memaparkan materi terkait Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang berpotensi dialami pekerja perempuan, khususnya pelaku UMKM.

Pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga dialogis, sehingga pekerja dapat menyampaikan permasalahan dan kebutuhan mereka di lapangan.

Beberapa contoh yang disampaikan antara lain, dermatitis pada pekerja pengolah agar-agar akibat paparan bahan secara terus-menerus, risiko cedera pada pekerja nelayan yang tidak menggunakan sarung tangan saat bekerja di kapal, serta berbagai gangguan kesehatan lain akibat kurangnya penerapan prinsip K3.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026