Dinkes Sulsel tunggu hasil lab pasien suspek hepatitis akut asal Sulbar
Rabu, 18 Mei 2022 8:03 WIB
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Bachtiar Baso. ANTARA/Nur Suhra Wardyah
Makassar (ANTARA) - Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan tengah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium pasien suspek hepatitis akut yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat namun dirawat dan ditangani oleh RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Bachtiar Baso di Makassar, Selasa (17/5), menyebut gejala yang tampak pada pasien belum mengarah ke hepatitis, namun sampel tetap dikirim ke laboratorium guna mengetahui secara pasti status pasien.
"Sebenarnya tidak menyentuh hepatitis karena gejalanya tidak mengarah ke situ. Tetapi tidak apa-apa kita kirim supaya kita waspada. Jangan sampai gejala tidak terlalu nampak tapi hasil lab mendukung," kata dia di Makassar, Selasa.
Hingga saat ini, pihaknya belum mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium terkait dengan pasien itu.
"Sampelnya sudah dikirim, tapi belum ada hasilnya. Apapun hasilnya nanti kita harus siap. Sekalipun itu bukan warga Sulsel," katanya.
Ia menyebut Sulsel tetap harus bersiap menghadapi penyakit hepatitis akut, kendati kasus suspek didapati di Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, sebab posisi daerah itu dianggap tidak jauh dari Kabupaten Pinrang.
Oleh karena itu, ia mengaku telah meminta Kepala Dinas Pinrang agar lebih waspada, termasuk terhadap anak usia satu bulan hingga 16 tahun, jika betul hasil pemeriksaan laboratoirum itu, pasien terkena hepatitis akut.
Berkenaan dengan hal itu, akan digelar Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada Kamis (18/5) yang akan mempertemukan seluruh gubernur se-Indonesia dengan Presiden Joko Widodo.
"Mudah-mudahan Presiden akan menyapa Gubernur Sulsel karena capaian imunisasi dasar lengkapnya terbaik di seluruh Indonesia. Kita 2021 capaian 100 persen, tertinggi dan tidak ada satupun provinsi yang seperti itu," kata dr Bachtiar.
Sulsel harus konsisten menjadi terbaik dalam pencapaian imunisasi dasar lengkap di momentum BIAN. Dua target utama yakni mengejar capaian target imunisasi bagi anak-anak usia lima tahun ke bawah yang belum selesai.
"Itu yang kita selesaikan, lengkapi karena waktunya ini tidak panjang, hanya satu bulan, 30 hari kerja," katanya.
Kedua, menggenjot imunisasi campak rubella untuk anak sembilan tahun ke bawah.
"Ini harus diwaspadai karena seperti yang di RS Wahidin itu dianggap suspek hepatitis, ternyata bisa jadi rubella," ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Bachtiar Baso di Makassar, Selasa (17/5), menyebut gejala yang tampak pada pasien belum mengarah ke hepatitis, namun sampel tetap dikirim ke laboratorium guna mengetahui secara pasti status pasien.
"Sebenarnya tidak menyentuh hepatitis karena gejalanya tidak mengarah ke situ. Tetapi tidak apa-apa kita kirim supaya kita waspada. Jangan sampai gejala tidak terlalu nampak tapi hasil lab mendukung," kata dia di Makassar, Selasa.
Hingga saat ini, pihaknya belum mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium terkait dengan pasien itu.
"Sampelnya sudah dikirim, tapi belum ada hasilnya. Apapun hasilnya nanti kita harus siap. Sekalipun itu bukan warga Sulsel," katanya.
Ia menyebut Sulsel tetap harus bersiap menghadapi penyakit hepatitis akut, kendati kasus suspek didapati di Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, sebab posisi daerah itu dianggap tidak jauh dari Kabupaten Pinrang.
Oleh karena itu, ia mengaku telah meminta Kepala Dinas Pinrang agar lebih waspada, termasuk terhadap anak usia satu bulan hingga 16 tahun, jika betul hasil pemeriksaan laboratoirum itu, pasien terkena hepatitis akut.
Berkenaan dengan hal itu, akan digelar Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada Kamis (18/5) yang akan mempertemukan seluruh gubernur se-Indonesia dengan Presiden Joko Widodo.
"Mudah-mudahan Presiden akan menyapa Gubernur Sulsel karena capaian imunisasi dasar lengkapnya terbaik di seluruh Indonesia. Kita 2021 capaian 100 persen, tertinggi dan tidak ada satupun provinsi yang seperti itu," kata dr Bachtiar.
Sulsel harus konsisten menjadi terbaik dalam pencapaian imunisasi dasar lengkap di momentum BIAN. Dua target utama yakni mengejar capaian target imunisasi bagi anak-anak usia lima tahun ke bawah yang belum selesai.
"Itu yang kita selesaikan, lengkapi karena waktunya ini tidak panjang, hanya satu bulan, 30 hari kerja," katanya.
Kedua, menggenjot imunisasi campak rubella untuk anak sembilan tahun ke bawah.
"Ini harus diwaspadai karena seperti yang di RS Wahidin itu dianggap suspek hepatitis, ternyata bisa jadi rubella," ujarnya.
Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Vatikan : Paus Fransiskus mengalami dua kali gagal napas akut pada Senin malam
04 March 2025 9:53 WIB, 2025
Menko PMK: Presiden setujui pemberian bantuan untuk korban gagal ginjal akut
28 September 2023 11:05 WIB, 2023
Kemenkes : Hindari membeli obat sirop secara mandiri tanpa resep dari dokter
06 February 2023 14:35 WIB, 2023
Peredaran obat sirop merek Praxion distop sembari investigasi ginjal akut
06 February 2023 10:58 WIB, 2023
Anggota DPR minta Bareskrim Polri transparan dalam usut kasus gagal ginjal akut
20 November 2022 12:00 WIB, 2022
BPOM: Gugatan hukum terkait obat sirop mengandung zat berbahaya ke PTUN langkah salah
17 November 2022 17:09 WIB, 2022