Ali Masykur : Pemerintah tidak Adil Terhadap Maluku
Selasa, 23 September 2014 21:19 WIB
Ambon (ANTARA Sulsel) - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa menegaskan pemerintah pusat belum berlaku adil terutama menyangkut alokasi dana pembangunan untuk provinsi Maluku.
"Pemerintah pusat belum adil dalam mengalokasikan dan mendistribusikan anggaran pembangunan, terutama kepada provinsi Maluku yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan," kata Ali Masykur, di Ambon, Selasa.
Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI periode 2009 - 2014 tersebut menegaskan, kecilnya alokasi anggaran pembangunan untuk Maluku menyebabkan percepatan pembangunan di wilayah tersebut tertinggal jauh dibanding daerah lainnya di Indonesia Barat maupun Indonesia Tengah.
Ia merasa miris melihat kondisi Maluku sebagai salah satu provinsi yang berandil besar terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialami saat ini di mana tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di tanah air.
"Padahal potensi sumber daya alam Maluku terutama kelautan dan perikanan sangatlah besar dan bernilai ekonomis. Jika potensi ini dikelola optimal akan berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Seharusnya, ujar dia, pendapatan negara yang mencapai Rp1.820 triliun dapat dibagi dengan baik menggunakan skala prioritas serta mempertimbangkan karakteristik wilayah masing-masing provinsi.
"Pemerintah pusat seharusnya tidak menggunakan pendekatan kontinental maupun jumlah penduduk dalam membagi anggaran pembangunan untuk masing-masing daerah, tetapi harus juga mempertimbangkan karakteristik wilayah," katanya.
Menurut dia, sentralistik pembangunan yang masih bertumpu di wilayah barat, khususnya di Pulau Jawa yang memproleh alokasi anggaran besar maupun prioritas program pembangunan sudah seharusnya dibatasi, dan pemerintah mulai mengalihkan perhatian ke kawasan potensial dan strategis serta memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah seperti Maluku.
Pemerataan keuangan negara, katanya, memegang peran penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kelemahan yang dihadapi saat ini yakni pendistribusian keuangan negara yang tidak merata. Sistem ekonomi Indonesia sering mengabaikan masalah pemerataan keuangan. Harusnya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak lagi terjadi kesenjangan antarwilayah," ujar Musa.
Maluku dengan karakter wilayah kepulauan harusnya bisa disejajarkan dengan provinsi lain, jika memerintah Pusat mengalokasikan anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur dasar, terutama fasilitas perhubungan yang memegang peranan penting untuk konektivitas antarwilayah.
Dia menambahkan, Maluku dengan julukan provinsi "seribu pulau" berada pada posisi strategis di kawasan pasifik, serta didukung besarnya potensi sumber daya perikanan dan kelautan, akan memegang peranan penting dalam perdagangan dunia di masa mendatang.
"Terpenting saat ini berpulang kepada pemerintah daerah serta kabupaten - kota melihat peluang ini strategis tersebut, dengan menciptakan konsep dan program pembangunan prioritas guna mengejar ketertinggalan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya di masa mendatang," ujar Ali Masykur. I. Sulistyo
"Pemerintah pusat belum adil dalam mengalokasikan dan mendistribusikan anggaran pembangunan, terutama kepada provinsi Maluku yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan," kata Ali Masykur, di Ambon, Selasa.
Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI periode 2009 - 2014 tersebut menegaskan, kecilnya alokasi anggaran pembangunan untuk Maluku menyebabkan percepatan pembangunan di wilayah tersebut tertinggal jauh dibanding daerah lainnya di Indonesia Barat maupun Indonesia Tengah.
Ia merasa miris melihat kondisi Maluku sebagai salah satu provinsi yang berandil besar terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialami saat ini di mana tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di tanah air.
"Padahal potensi sumber daya alam Maluku terutama kelautan dan perikanan sangatlah besar dan bernilai ekonomis. Jika potensi ini dikelola optimal akan berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Seharusnya, ujar dia, pendapatan negara yang mencapai Rp1.820 triliun dapat dibagi dengan baik menggunakan skala prioritas serta mempertimbangkan karakteristik wilayah masing-masing provinsi.
"Pemerintah pusat seharusnya tidak menggunakan pendekatan kontinental maupun jumlah penduduk dalam membagi anggaran pembangunan untuk masing-masing daerah, tetapi harus juga mempertimbangkan karakteristik wilayah," katanya.
Menurut dia, sentralistik pembangunan yang masih bertumpu di wilayah barat, khususnya di Pulau Jawa yang memproleh alokasi anggaran besar maupun prioritas program pembangunan sudah seharusnya dibatasi, dan pemerintah mulai mengalihkan perhatian ke kawasan potensial dan strategis serta memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah seperti Maluku.
Pemerataan keuangan negara, katanya, memegang peran penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kelemahan yang dihadapi saat ini yakni pendistribusian keuangan negara yang tidak merata. Sistem ekonomi Indonesia sering mengabaikan masalah pemerataan keuangan. Harusnya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak lagi terjadi kesenjangan antarwilayah," ujar Musa.
Maluku dengan karakter wilayah kepulauan harusnya bisa disejajarkan dengan provinsi lain, jika memerintah Pusat mengalokasikan anggaran yang cukup untuk membangun infrastruktur dasar, terutama fasilitas perhubungan yang memegang peranan penting untuk konektivitas antarwilayah.
Dia menambahkan, Maluku dengan julukan provinsi "seribu pulau" berada pada posisi strategis di kawasan pasifik, serta didukung besarnya potensi sumber daya perikanan dan kelautan, akan memegang peranan penting dalam perdagangan dunia di masa mendatang.
"Terpenting saat ini berpulang kepada pemerintah daerah serta kabupaten - kota melihat peluang ini strategis tersebut, dengan menciptakan konsep dan program pembangunan prioritas guna mengejar ketertinggalan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya di masa mendatang," ujar Ali Masykur. I. Sulistyo
Pewarta : Jimmy Ayal
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenag Sulsel apresiasi peran Keuskupan Agung Makassar jaga kerukunan beragama
27 December 2025 6:18 WIB
Kualifikasi Piala Dunia 2026, UEA bermain 1-1 vs Irak pada leg pertama putaran kelima
14 November 2025 5:16 WIB
Ali Ghufron Mukti : Soal iuran BPJS Kesehatan naik 2026 tanyakan ke Bu Menkeu
25 August 2025 9:56 WIB
Ketua PPIH Embarkasi: Tidak ada seremonial penerimaan JCH di Asrama Haji Sudiang
01 May 2025 5:00 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB