Makassar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 sebesar 4,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,79 yang disebabkan tidak adanya diskon listrik tahun ini seperti di awal 2025.

Kepala Bagian Umum (Kabag Umum) BPS Sulsel Khaerul Agus di Makassar, Senin, mengatakan, inflasi yoy tersebut dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, dengan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi sebesar 11,67 persen.

"Pada Januari 2025 ada diskon listrik, sedangkan Januari 2026 tidak ada diskon listrik, ini menjadikan secara tahunan kenaikan kelompok ini tinggi," katanya.

Kontribusi kenaikan inflasi lainnya yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan indeks sebesar 3,59 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan naik 1,5 persen, transportasi 0,2 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,9 persen, pendidikan 0,83 persen, dan penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,52 persen.

Di sisi lain, terdapat beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki tercatat turun sebesar 0,3 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 0,34 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,39 persen.

Ia mengungkapkan, dari delapan sampel daerah yang menjadi sumber pendataan itu inflasi tertinggi berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dengan 5,64 persen.

"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 5,63 persen dengan IHK 108,33, sementara inflasi terendah tercatat di Kota Makassar sebesar 3,82 persen dengan IHK 109,88," ujar Khaerul Agus.

Sementara itu BPS Sulsel juga mencatat tingkat inflasi bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026 sebesar 0,47 persen. Sementara itu, inflasi year to date (ytd) hingga Januari 2026 juga berada pada angka 0,47 persen.

"Adapun komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi yoy pada Januari 2026 antara lain tarif listrik dengan sumbangan 1,46 persen, emas perhiasan sebesar 1,19 persen, dan beras sebesar 0,24 persen," katanya.

Komoditas perikanan seperti ikan bandeng atau ikan bolu menyumbang 0,13 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,12 persen, serta ikan cakalang atau ikan sisik 0,11 persen.

Selain itu, sigaret kretek mesin menyumbang 0,1 persen, telur ayam ras 0,1 persen, ikan teri 0,05 persen, sewa rumah 0,05 persen, dan udang basah juga memberikan andil sebesar 0,05 persen terhadap inflasi Sulawesi Selatan.