Pemkot kaji rupa bumi unsur buatan
Rabu, 11 April 2018 21:51 WIB
Balaikota Makassar (Istimewa)
Makassar (Antaranews Sulselp) - Pemerintah Kota Makassar menggelar bimbingan teknis pembakuan nama rupa bumi unsur buatan yang menjelaskan tentang sejarah pembentukan dan penamaan suatu daerah.
"Bimbingan teknis pengkajian ini sangat penting karena ada banyak hal disekitar itu punya sejarah kenapa penamaan itu dilakukan dan bimtek ini adalah salah satu caranya mengenalkan sejarahnya kepada anak cucu kita," ujar Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah Makassar Andi Muh Yasir di Makassar, Rabu.
Ia mengatakan, kota Makassar yang punya sejarah panjang sebagai kota niaga pada abad 16 lalu, meninggalkan banyak jejak-jejak sejarah hingga pemberian nama atau rupa tersebut.
Dia menerangkan dalam bimtek ini para peserta akan mengkaji data-data rupa bumi yang menjelaskan sejarah pembentukan dan penamaan suatu daerah di lingkungan Makassar khususnya di tingkat kelurahan.
"Dari bimtek ini kita akan mengetahui sejarah yang melatar belakangi pemberian nama daerah yang mencakup seluruh unsur di daerah kita," ucapnya.
Muh Yasir menambahkan kegiatan yang dilaksanakannya itu juga mengkaji unsur alam maupun buatan manusia di mana belum sepenuhnya masyarakat memahaminya dan bahkan aparat pemerintahan pun juga.
"Saya harap dengan adanya pengkajian dan diskusi bimtek ini para aparat kelurahan mampu mengetahui sejarah dan arti kelurahan dan sejarah nama kampung dalam kelurahan sehingga anak cucu kita ke depan bisa mengetahui sejarah daerahnya," ungkapnya
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Makassar Andi Mappanyukki mengatakan, tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang pembakuan nama-nama rupa rupa bumi unsur buatan manusia maupun alam.
"Ini akan memperjelas data dan kajian rupa-rupa kelurahan khususnya terkait sejarah dari sebuah kelurahan dan kampung yang ada di dalam wilayah kota Makassar," katanya menjelaskan.
Bimtek diikuti aparat kelurahan khususnya para lurah dari tiga kecamatan yang ada dalam wilayah Makassar, diantaranya kecamatan Makassar, Panakukang dan Rappocini.
"Bimbingan teknis pengkajian ini sangat penting karena ada banyak hal disekitar itu punya sejarah kenapa penamaan itu dilakukan dan bimtek ini adalah salah satu caranya mengenalkan sejarahnya kepada anak cucu kita," ujar Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah Makassar Andi Muh Yasir di Makassar, Rabu.
Ia mengatakan, kota Makassar yang punya sejarah panjang sebagai kota niaga pada abad 16 lalu, meninggalkan banyak jejak-jejak sejarah hingga pemberian nama atau rupa tersebut.
Dia menerangkan dalam bimtek ini para peserta akan mengkaji data-data rupa bumi yang menjelaskan sejarah pembentukan dan penamaan suatu daerah di lingkungan Makassar khususnya di tingkat kelurahan.
"Dari bimtek ini kita akan mengetahui sejarah yang melatar belakangi pemberian nama daerah yang mencakup seluruh unsur di daerah kita," ucapnya.
Muh Yasir menambahkan kegiatan yang dilaksanakannya itu juga mengkaji unsur alam maupun buatan manusia di mana belum sepenuhnya masyarakat memahaminya dan bahkan aparat pemerintahan pun juga.
"Saya harap dengan adanya pengkajian dan diskusi bimtek ini para aparat kelurahan mampu mengetahui sejarah dan arti kelurahan dan sejarah nama kampung dalam kelurahan sehingga anak cucu kita ke depan bisa mengetahui sejarah daerahnya," ungkapnya
Kepala Bagian Tata Pemerintahan Makassar Andi Mappanyukki mengatakan, tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang pembakuan nama-nama rupa rupa bumi unsur buatan manusia maupun alam.
"Ini akan memperjelas data dan kajian rupa-rupa kelurahan khususnya terkait sejarah dari sebuah kelurahan dan kampung yang ada di dalam wilayah kota Makassar," katanya menjelaskan.
Bimtek diikuti aparat kelurahan khususnya para lurah dari tiga kecamatan yang ada dalam wilayah Makassar, diantaranya kecamatan Makassar, Panakukang dan Rappocini.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Iptek
Lihat Juga
Menristek: Forum Indonesia-Prancis tingkatkan iklim penelitian di Indonesia
31 October 2019 12:09 WIB, 2019