VP Garuda: "power bank" hanya ditertibkan

id I Wayan Supatrayasa, VP Region Sukapua PT Garuda Indonesia, power bank, ditertibkan

VP Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Region PT Garuda Indonesia, Tbk. I Wayan Supatrayasa (Foto Istimewa)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Vice President (VP) PT Garuda Indonesia, Tbk Wilayah Sulawesi, Kalimantan dan Papua I Wayan Supatrayasa menyatakan jika power bank atau pengisi baterai portabel bukannya dilarang untuk dibawa terbang melainkan hanya ditertibkan saja.

"Mengenai power bank itu, bukannya kita melarang, melainkan kita hanya menertibkan saja demi keamanan seluruh penumpang pesawat," jelas I Wayan Supatrayasa saat memberikan penjelasannya pada pertemuan dengan sejumlah media (media gathering) di Makassar, Selasa.

Ia mengatakan, aturan pemberlakuan membawa power bank atau pengisi baterai portabel bagi penumpang pesawat udara menindaklanjuti peraturan dari Kementerian Perhubungan.

"Power bank yang mempunyai daya lebih dari 160 Wh (watt-jam) atau 32.000 mAh (milli ampere hour) dan tanpa keterangan dilarang dibawa ke pesawat oleh penumpang. Jadi ada kriteria yang mana bisa dibawa, yang mana ditertibkan," katanya.

Dia menyampaikan jika saat pemeriksaan ditemukan power bank di atas 32.000 mAh maka barang tersebut tidak boleh dibawa dan dititipkan kepada petugas keamanan bandara.

"Jadi tidak kami sita, melainkan dibungkus dengan rapi beserta keterangan identitas pemilik untuk dititipkan dan dapat diambil lagi nanti," kata dia.

Wayan mengatakan saat ini sudah cukup banyak power bank yang dititipkan kepada petugas karena secara persyaratan tidak memenuhi ketentuan untuk dibawa ke pesawat.

Akan tetapi dalam Surat Edaran Kemenhub Nomor 15 tahun 2018 tersebut power bank dengan daya kurang dari 100 Wh atau 20.000 mAh dapat dibawa oleh penumpang dengan syarat tidak terhubung atau mengisi perangkat saat terbang.

Sementara untuk power bank dengan daya lebih dari 100 Wh atau di bawah 32.000 mAh dapat dibawa ke kabin dengan syarat tidak boleh di bagasi dan harus tercatat.
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar