Insentif pendanaan BPDP-KS perlu diperluas ke BUMN

id sawit,Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit,bpdp ks,cpo,Menahan Kejatuhan Harga CPO Menyelamatkan Petani,peneliti bppt,agus kismanto

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami menyampaikan sambutan dalam pembukaan program Regular Oil Palm Course 2018 di Jakarta, Senin (19/11/2018). (Kementerian Luar Negeri RI)

Jakarta - Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit  (BPDP-KS) perlu memperluas peran pendanaannya dengan memberikan insentif bagi BUMN seperti Pertamina  untuk membuat kilang pengolahan CPO dan PLN untuk berinvestasi pada mesin-mesin yang kompatibel dengan biodiesel.

Perluasan peran pendanaan itu diharapkan mampu menahan kejatuhan harga CPO yang kini berada di bawah US$ 500 per ton karena dipicu turunnya permintaan pasar ekspor, sehingga terjadi kelebihan CPO Indonesia sebesar 4 juta ton tahun ini.

Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto memperkirakan pembangunan kilang CPO dapat mempercepat proses pencampuran minyak mentah (crude oil) dengan CPO menjadi bahan bakar. “Pembangunan Kilang itu diharapkan mampu menyerap CPO hingga 20 juta ton per tahun atau 340 ribu barel per hari (bph),” kata Agus dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menahan Kejatuhan Harga CPO, Menyelamatkan Petani” di Jakarta, Rabu (5/12).

Insentif bagi PLN perlu dilakukan agar ada peningkatan penggunaan CPO pada pembangkit listrik. Dengan insentif ini, PLN dapat mengembangkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbahan bakar minyak sawit. Hanya saja, agar PLN tidak terbebani, BPDP-KS dapat membantu pembiayaan untuk pilot plant dan perencanaan. “Peran BPDP-KS juga diperlukan ketika terjadi selisih harga antara BBM dan BBN,” kata Agus.

Agus menyarankan pemerintah juga perlu  melakukan penjajakan program barter biodiesel biothanol dengan Brasil yang memiliki potensi sebesar 3,3 juta kiloliter.

Selain itu, subtitusi MFO (marine fuel oil) dengan CPO oleh PLN yang potensinya bisa mencapai 0,9 juta kiloliter juga perlu dilakukan. “Peluang lain mengganti PLTD berbahan bakar HSD dengan CPO atau minyak goreng. Potensinya bisa mencapai 2,9 juta kiloliter," kata Agus.

Agus  juga menyarankan pemerintah untuk mempercepat program B20 menjadi B30. “Paling tidak, program B30 bisa terealisasi pertengahan tahun depan untuk mempercepat serapan dan mendorong kenaikan harga CPO," ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR  Jhony G Plate mengatakan instansi pemerintah perlu melepaskan ego sektoral untuk mendorong penguatan harga CPO. ”Indonesia  merupakan negara yang besar, tetapi persoalan semua instansi bekerja sendiri sendiri dan sangat sektoral sehingg kita menjadi kecil dan berdampak pada leverage kita yang kecil," ujarnya lagi.

Plate juga menjelaskan program hilirisasi domestik guna meningkatkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri tidak bisa ditunda karena produksi sawit nasional yang melimpah. “Ke depan, seharusnya program B20 hanya menjadi salah satu bagian dari begitu banyak pengembangan hilirisasi. Apalagi potensi CPO bakal melimpah sejalan dengan program replanting dan peningkatan produksi.” Kata dia.

 Indonesia perlu mempunyai peta jalan  industri sawit nasional dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi sawit, pusat referensi harga sawit, dan pusat hilirisasi sawit dunia.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar