Wapres JK buka Mubes IMMIM

id jk-imim

Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (kedua kiri) didampingi Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (kedua kanan), Ketua DPP IMMIM Prof Ahmad Sewang memukul gendang sebagai tanda peresmian Pembukaan Mubes IMMIM ke-7 di Makassar, Sabtu (19/1/2019). (Foto istimewa).

Makassar (Antaranews Sulsel) - Wakil Presiden HM Jusuf Kalla membuka secara resmi Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Masjid Mushollah Indonesia Muttahidah (IMMIM) Pusat ke-7 di Pondok Pesantren Modern Putra IMMIM, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas upaya selalu mejaga IMMIM ini sejak dulu sampai sekarang. Dengan ucapan selamat Musyawarah Besar yang ke tujuh ini, tentu harapannya memilih pimpinan-pimpinan yang memang mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk membina ini (IMMIM)," tutur Jusuf Kalla, Sabtu.

Organisasi tersebut, kata dia, harus bisa mempersatkan masyarakat muslim dan menjadi organisasi sejak awal dibentuk menjadi bagian perjuangan dakwah dalam menyiarkan Islam.

"Sekali lagi, karena ini merupakan organisasi justru harus mempersatukan masyarakat dan organisasi yang sejak awal didirikan telah menjadi bagian dari dakwah kita semuanya," tambah pria disapa akrab JK itu.

Dalam pidatonya, mantan Sekertaris Jenderal IMMIM ini memaparkan organisasi ini memiliki hubungan emosional dengan IMMIM yang didirikan bersama almarhum Fadli Lurang dan sejumlah tokoh dimasa itu.

Pada kesempatan itu, JK juga memimpin dan meminta undangan yang hadir membacakan Al-Fateha tuntuk dikirimkan kepada almarhum pendiri sekaligus ketua pertama IMMIM, Fadli Lurang. 

Ia menceritakan, alamhum sangat gigih dimasa itu membentuk organisasi dengan satu alasan bahwa paham komunis sudah menggerogoti di beberapa daerah utamanya di pulau Jawa melalui ideologi keagamaan dan nasionalisme.

"Salah satu pertahanannya ialah masjid. Karena masjid diperlukan pertahanan maka perlu ada kesamaan ide dan kecerdasan, lalu kemudian tahap awal mendirikan IMMIM di Makassar,"paparnya.

Namun begitu berjalan beberapa tahun, lanjutnya, banyak keinginan di daerah, diluar Kota Makassar termasuk di beberapa provinsi untuk ikut mendirikan IMMIM. Maka berubahlah dari Ikatan Masjid Mushollah Indonesia Makassar, menjadi Muttahidah.

""Makassar dirubah menjadi Muttahida itu memberikan kesempatan lebih luas. Hal-hal tersebutlah menjadikan dasar bagaimana masjid menjadi tempat pertahanan, disamping ibadah juga untuk membatasi penyebaran ideologi yang tentu bisa membahayakan umat pada jaman itu," ungkapnya.

Bersama IMMIM dan beberapa organisasi kemesjidan lainnya di tahun 70-an selanjutnya mendirikan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Hal ini memberikan kita semua menguatkan tali persahabatan dengan ikatan yang kuat.

"Mesjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi bagaimana memajukan keagamaan kita, juga memajukan keduniaan kita, karena kita harus baik dunia dan akhirat," kata Ketua Umum DMI Pusat dalam acara tersebut.

Sebagai dewan masjid, ia mempunyai suatu paham bahwa semuanya harus memakmurkan masjid, kemudian sebagian masjid harus memakmurkan masyarakat dan jamaahnya. Tanpa itu masjid akan pincang, karena hanya masyarakat yang makmur dapat juga memakmurkan masjid.

"Didunia ini hanya dua negara seperti Indonesia, hanya Indonesia dan Pakistan. Dimana masyarakatnya mendirikan masjid. Banyak negara lain mendirikan masjid negara, pemerintahannya seperti, Malaysia, Brunai, Timur Tengah dan lainnya, malah imamnya dibiayai oleh negara, pemerintah. Kita alhamdulliah semua dibangun oleh masyarakat," ujar JK.

Hal ini sejalan dengan jumlah penduduk mayoritas Islam paling besar dan tentunya masjid paling banyak di dunia. JK mengemukakan untuk jumlah masjid yang tercatat sudah mencapai lebih dari 800 ribu dan terus bertambah setiap harinya.

Secara nasional keagamaan di Indonesia luar biasa, disamping jumlah masjid terus bertambah semangat keagamaan semaki kuat. Kendati demikian masih ada satu kekurangan umat itu, ialah dunia usaha.

Iia memperumpamakan, kalau ada 100 orang kaya di Indonesia, maksimum tidak lebih 10 orang muslim, tapi bila ada 100 orang miskin, maka 90 persen adalah orang islam.

"Ini artinya harus ada dorongan, masjid harus mendorong masyarakat untuk terjun ke dunia usaha. Rasulullah awalnya sebelum menikan menjadi pengusaha, yang dirikan IMMIM juga pengusaha. Kita kekurangan disitu, agar suasana kemesjidan baik khotbah di masjidi 60 persen keagamaan 40 persen keduniaan,"harap ketua PMI Pusat itu.

Gubernur Provinsi Sulsel HM Nurdin Abdullah pada kesempatan itu dalam pidatonya memamparkan telah membuat program khusus di bidang keagamaan selama lima tahun masa pemerintahannnya dengan mengajak jamaah mengaji selama 15 menit dan membangun rumah Tahfiz Al-quran.

"Pemprov Sulsel telah berupaya memperbaiki sumber daya manusianya, dengan seiring pembangunan infrastruktur penunjang, terkhusus dia daerah terisolir, pembangunan stimulan rumah Tahfiz dan sarana ibadah lainnya dilaksanakan dan mengajak warga membaca Al-quran minimal 15 menit ," tuturnya di hadapan Wapres.

Ketua Umum DPP IMMIM Prof H Ahmad M Sewang dalam kesempatan itu berterima kasuh atas kehadiran Wapres Jusuf Kalla yang bersedia hadir untuk membuka Mubes ke tujuh IMMIM di Makassar.

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian bapak JK yang selalu hadir dalam setiap kegitan, sebelumnya meresmikan pesantren putra IMMIM di Moncongloe, Maros. Selain itu beliau sebagai ketua dewan pembina IMMIM juga mewakafkan diri membina soal kemasjidan,"tambahnya.

Selain JK berama ibu negara Muhfida Kalla, Gubernur Sulsel, pengurus dan pimpinan IMMIM, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Panglima Kodam XIV Hasanuddin Mayjen Surawahadi beserta istri ikut hadir bersama undangan lainnya.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar