Logo Header Antaranews Makassar

Sulsel Sulit Hadapi Pasar Bebas 2010

Kamis, 24 Desember 2009 05:14 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sulawesi Selatan (Sulsel) belum siap menghadapi penerapan pasar bebas Asia Tenggara-China (ASEAN-China Free Trade Agreement) pada 2010 mendatang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel Amar Kadir di Makassar, Rabu, mengatakan standar kualitas hasil produksi barang di Sulsel belum mampu memenuhi standar mutu seperti sertifikat ISO maupun SNI (Standar Nasional Indonesia).

Kelemahan inilah yang akan mengancam produk lokal sulit bersaing dengan produk impor menyusul penghapusan bea impor saat pemberlakuan perdagangan bebas di dalam negeri.

Pemberlakuan pajak impor produk asal China sebesar lima persen saat ini telah menyulitkan produksi industri nasional bersaing dengan produk-produk mereka.

"Dengan pajak impor sebesar lima persen saja, produk asal China sudah sangat murah dan berada di bawah harga industri nasional," ucapnya.

Disperindag Sulsel saat ini tengah melakukan upaya agar industri lokal mampu bersaing dalam pasar bebas dengan melakukan peningkatan kualitas.

Produk-produk industri yang dihasilkan harus melalui Balai Pengujian Sertifikasi dan Mutu Barang.

"Kami akan melakukan membina dan mendorong industri lokal untuk memenuhi kualitas standar mutu mereka," ujarnya.

Selain itu, produk ekspor andalan Sulsel masih terbatas untuk tembus ke pasar dunia.

"Komoditi Sulsel masih banyak yang belum mampu di ekspor dalam bentuk produk setengah jadi. Keterbatasan industri pengolahan komoditi ekspor masih menjadi kendala," keluhnya.

Dia mengungkapkan, komoditas ekspor Sulsel selama ini masih di kirim dalam bentuk gelondongan seperti jagung, kakao dan biji kopi, akibatnya komoditas itu rentan terkena penalti di negara tujuan ekspor.

"Nilai jual produk primer jauh lebih rendah dibandingkan komoditas yang telah melalui proses pengolahan menjadi barang jadi atau setengah jadi," ungkapnya.

(T.PK-HK/A026)